Property

Lima Tantangan Terkini Bagi Peritel Menurut NielsenIQ

Sumber: 123rf.com

Penjualan daring untuk produk fast-moving consumer goods (FMCG) tidak hanya berasal dari peningkatan pembelanjaan yang dilakukan oleh pembeli daring yang sudah ada. Namun, juga dari meningkatnya jumlah rumah tangga yang membeli secara daring dan dari peningkatan frekuensi pembelian dan uang yang dibelanjakan. Menurut NielsenIQ, sebuah perusahaan pengukuran global, hal ini menandakan tahap akhir dari permulaan e-commerce di Asia.

Dalam insight terbarunya, NielsenIQ, mengingatkan peritel bahwa saat e-commerce bertransisi ke fase berikutnya, ada lima tantangan yang perlu dihadapi peritel. Kelimanya adalah fragmentasi pasar ritel yang semakin beragam, pendefinisian ulang peran toko luring, pengalaman berbelanja yang bervariasi, upaya yang lebih besar untuk merebut perhatian konsumen, dan kecepatan peritel untuk menyediakan produk ke konsumen.

“Kita memasuki tahap akhir dari permulaan e-commerce di Asia dan mereka yang tidak bertindak sekarang akan melewatkan fase paling berpengaruh dari pertumbuhan untuk e-commerce,” kata Vaughan Ryan, Managing Director, Consumer Intelligence NielsenIQ di Asia seperti dikutip dari keterangan resmi NielsenIQ.

Ryan menambahkan, kemajuan teknologi dan kreativitas dalam dekade terakhir telah membuat dunia ritel lebih maju. Mereka mengarah ke lingkungan di mana kepercayaan menjadi lebih penting. “Bukan sekadar logistik tetapi lebih mengutamakan pencarian dan pemilihan produk yang makin personal bagi konsumen, di mana ada eksplorasi kategori baru, dan integrasi omnichannel yang berjalan tanpa adanya batasan,” katanya.

Sementara, e-commerce dipandang dapat mengubah ritel, COVID-19 mempercepat perubahan menuju kesiapannya untuk bertransisi ke fase berikutnya.

Di perkotaan Indonesia, jumlah pembeli daring tumbuh sebesar 15% selama 12 bulan terakhir. Selain melihat frekuensi pembelian tumbuh sebesar 37% di Indonesia, NielsenIQ juga mencatat jumlah uang yang dihabiskan secara daring oleh masyarakat Indonesia yang juga meningkat sebesar 46%.

Tingkat perubahan akan bervariasi sesuai kematangan digital di masing-masing negara, NielsenIQ percaya bahwa hampir semua pertumbuhan barang  akan datang dari e-commerce yang bergerak maju.

Peritel harus menyadari bahwa meskipun toko fisik tetap menjadi kanal utama bagi masyarakat Indonesia, konsumen sekarang makin terbiasa melakukan hampir semuanya secara daring. “Saat ini, konsumen dapat dengan mudah mencari harga terbaik di marketplace sebelum memutuskan untuk berbelanja secara online atau offline, terutama untuk susu formula, popok bayi, produk perawatan kulit, dan produk kecantikan lainnya,” ujar Mia Triscahyani, Consumer Intelligence Head NielsenIQ di Indonesia.

Menurut Mia, peritel dan produsen FMCG perlu melibatkan konsumen secara kreatif dan segera menanggapi kebutuhan mereka dengan hadir di omnichannel. Tanpa strategi omnichannel, ini akan menjadi jalan yang sulit bagi peritel dan pemilik merek saat e-commerce berkembang di Indonesia dan berlanjut ke fase berikutnya.

 

MARKETEERS X








To Top