Retail & Property

Mal Wajib Perkuat DNA, Jangan Latah Masuk Online

Selama pandemi, industri ritel mengalami penutupan hingga lebih dari tiga bulan. Ini merupakan kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya di industri ritel. Kondisi tersebut memunculkan kepanikan di antara para pelaku di industri ini, baik pengelola mal dan para tenant.

Ketika sudah ada pelonggaran kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) kondisi pusat perbelanjaan tidak banyak berubah. Sebabnya, masyarakat masih sangat berhati-hati ketika keluar rumah. Terutama, di kelompok masyarakat menengah atas yang lebih sadar tentang COVID-19 memilih tidak pergi ke mal kelas menengah atas. Padahal, kelompok ini memiliki daya beli yang tinggi.

Di sisi lain, di mal kelas menengah ke bawah terlihat lebih ramai pengunjungnya. Namun, daya beli dari segmen yang datang tidak tinggi. Sehingga, meski pengunjung ramai, tingkat pembelian rendah.

“Dengan kata lain, meskipun mal sudah buka, tapi tiap segmen menghadapi tantangan masing-masing. Mal kelas menengah atas sepi pengunjung, sedangkan mal menengah bawah tingkat penjualannya rendah karena segmen mal ini daya belinya terganggu,” kata Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) di acara Industry RoundTable: Actualizing The Post Normal: Year 2021 & Beyond -Retail Industry Perspective, hari ini (15/10/2020).

Melihat kondisi tersebut, APPBI memprediksi, hingga akhir tahun tingkat okupansi pusat perbelanjaan hanya 70-80%. Banyak tenant yang memutuskan pergi dan memilih memilih menunda untuk sewa lagi atau bahkan sudah tidak akan menyewa lagi.

Menariknya, kata Alphonzus, pusat perbelanjaan yang memiliki konsep outdoor dan stand alone menjadi pilihan konsumen atau ramai pengunjung. Hal ini karena ada kesadaran masyarakat bahwa ruangan terbuka relatif lebih aman dari penyebaran virus COVID-19.

APPBI juga memprediksi, pusat perbelanjaan akan mengalami recovery setelah vaksinasi dilakukan. Artinya, bila Sekitar Q2 2021 vaksinasi baru berjalan, maka pusat perbelanjaan baru mulai pulih pada Q3-2021.

Bagaimana Setelah COVID-19?
Semenjak pandemi melanda, terjadi transformasi gaya berbelanja yang yang semakin memilih online shopping. Konsumen juga semakin sadar kesehatan, sehingga jaga jarak bisa menjadi kebiasaan baru.

Pada dasarnya, online shopping sudah ada sebelum pandemi dan sudah menjadi pengganggu ritel offline. Namun, pascapandemi, penetrasi online lebih masif dan memaksa semua orang dari berbagai segmen untuk berbelanja online.

Bagaimana pengelola pusat belanja merespon fenomena tersebut? Menurut Alphonzus, pengelola pusat belanja tidak perlu latah ikut-ikutan menjadi online shopping.

“Mal itu tidak identik dengan online shopping. DNA shopping mal adalah offline shopping. Lalu, apakah harus jadi online shopping? Jangan seperti itu. Memang, harus berdamai dengan online shopping, tapi tanpa menjadi online shopping. Sebaliknya, pengelola mal harus harus memperkuat DNA mal yang offline shopping tersebut,” tegasnya.

Caranya, lanjut Alphonzus, pengelola mal harus menambah fungsi dari mal. Jadi, bukan sekadar sebagai tempat belanja, tapi lebih dari itu, misalnya tempat entertainment dan kuliner. Bahkan, fungsi barus tersebut harus menjadi yang utama, disusul fungsi tempat belanja.

Mal yang fungsinya hanya sebagai tempat belanja mungkin bisa bertahan di kota-kota kecil. Namun di kota-kota besar, mal yang hanya menjadi tempat belanja tidak akan bertahan lama.

“Pengelola mal harus membuat pengunjung datang bukan karena belanja. Pengunjung belanja justru setelah melakukan aktivitas lain yang ditawarkan mal. Misalnya, setelah menikmati kuliner atau melihat pameran, pengunjung baru belanja,” jelasnya.

MARKETEERS X








To Top