Mampukah Max Fashions Maksimalkan Pertumbuhannya di Indonesia?

marketeers article

Nama Max Fashions memang tak seterkenal dua jaringan ritel internasional lain yang cukup agresif berbisnis di Indonesia, yaitu Uniqlo dan H&M. Secara usia pun, Max Fashion baru dirintis perusahaan induknya, Landmark Group pada 14 tahun lalu. Di Arab Saudi, Max Fashions menjadi pemimpin pasar ritel mode dengan mengoperasikan 127 gerai. Sekitar 27 gerai berada di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Max juga sukses di India. Di sana, Max telah berhasil membuka 220 gerai di 85 kota. Targetnya, pada tahun 2020, ritel itu bisa menembus pengoperasian gerai hingga 300 unit di 100 kota di India. Artinya, setiap tahun, Max membuka 40 gerai.

Namun, kesuksesan itu perlu ditempuh dalam waktu lima tahun pasca ia memasuki pasar India pada tahun 2006. Pada tahun 2011, untuk pertama kalinya Max berhasil meningkatkan pendapatan double digit, di mana sejak tahun 2012, pertumbuhan CAGR-nya sebesar 30%.

Omset Max di India pada tahun lalu mencapai Rp 6 triliun, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 4,9 triliun. Sementara, pendapatan Max Fashion pada tahun 2017 secara global menyentuh US$ 1,7 miliar (sekitar Rp 25 triliun). Meski belum mau menyebut target penjualan Max di tanah air, namun Max berharap dapat membuka sepuluh gerai hingga lima tahun ke depan.

Dengan positioning sebagai ritel fesyen yang menawarkan valued product, Max akan menjadi peritel yang mengikuti selera konsumen. Menurut CEO Landmark Group Ramanathan Hariharan, jaringan ritel besar, seperti H&M dan Uniqlo, lebih sering melihat tren global di high-fashion Eropa, lalu membuat versi “affordable” di gerainya. Padahal, tidak melulu produk tren itu sesuai dengan keinginan konsumen.

“Sementara, kami membuat produk yang sesuai permintaan pasar. Anda mungkin tidak akan menemukan produk yang sama di negara-negara lain. Sebab, kami menyesuaikan produk itu sesuai pasar lokal,” papar dia.

(Baca Juga: Menanti Debut Max Fashion di Indonesia)

Unique selling point itu bisa terealisasi karena semua pabrik produksi baju Max berlokasi di Asia, seperti Indonesia, India, China, dan Bangladesh. Sehingga, perusahaan dapat melakukan pemesanan lebih cepat sekaligus memonitor kualitas. “Kami ingin membuat produk yang sesuai dengan konsumen yang tepat. Itu inti dari Max,” tutur dia lagi.

Berkaitan dengan serbuan e-commerce di Tanah Air, Max punya amunisi agar dalam enam bulan setelah peluncuran di Indonesia, konsumen bisa membeli produknya secara online. Di India, Max telah memiliki portal online shopping khusus maxfashion.in.

“Banyak rencana kami ke depan di Indonesia, dari mulai berkolaborasi dengan desainer lokal, hingga membuat situs penjualan online. Tunggu kami untuk mengerti market Indonesia,” tegas Rama.

Ia pun juga akan melihat potensi dari portofolio merek lain di bawah Landmark yang cocok untuk pasar Indonesia. Pasalnya, perusahaan yang dimilik oleh pengusaha India-Inggris Micky Jagtiani ini membawahi beberapa merek ritel, seperti Babyshops, Splash, Home Box, dan Shoe Mart. Di negara Timur Tengah dan Afrika Utara, Landmark juga menjadi pemegang  waralaba merek internasional, seperti jaringan pusat kebugaran Fitness First, merek fesyen New Look, dan supermarket Splash.

Meski besar di Timur Tengah, Max mesti belajar banyak dari kegagalan pemain ritel di Indonesia. Sebut saja Debenhams yang hengkang dari Indonesia. Adapula GAP yang juga menutup seluruh tokonya di tanah air. Maupun dari pemain lokalnya sendiri, seperti Matahari Department Store dan Ramayana. Artinya, perlu usaha maksimal agar Max Fashion mampu bersaing, sekaligus mewujudkan mimpi-mimpinya itu. Bisakah?

Editor: Sigit Kurniawan

 

Related

award
SPSAwArDS