Mau Lakukan Pemasaran Soft Selling? Coba Entertainment Marketing Ini

marketeers article
Sumber: 123RF

Pemasaran dengan memanfaatkan entertainment menjadi tren belakangan ini. Jenis pemasaran ini berfokus pada pemasaran produk cara yang menghibur untuk mendorong minat calon konsumen pada produk atau layanan merek yang akhirnya menciptakan loyalitas pelanggan.

Pendekatan entertainment marketing ini membawa pendekatan soft selling untuk merek dalam menjangkau audiens mereka. Seiring dengan perkembangan platform digital yang terus meningkat, entertainment marketing pun memiliki banyak bentuk. 

Jamak dilakukan adalah melalui film, drama hingga web series. Entertainment marketing dengan bentuk web series ini dikemas dalam bentuk format film pendek dari merek dan diunggah ke dalam sebuah platform OTT yang bisa menjangkau audiens yang lebih luas, seperti YouTube, Vidio, maupun Disney+.

BACA JUGA: JNE Lakukan Entertainment Marketing Melalui Sponsorship

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Quantzig dengan judul Three Top Media and Entertainment Industry Trends: 2020, ditemukan bahwa saat ini, platform streaming online sedang menjadi tren yang disukai oleh masyarakat, khususnya generasi milenial. Sekarang, masyarakat makin haus akan hiburan. 

Mereka tidak segan untuk membayar lebih demi menonton acara favorit mereka. Hal ini pun dapat menjadi peluang bagi merek untuk memanfaatkan platform tersebut guna menjangkau audiens yang disasar. 

Merek dapat menggunakan pendekatan yang lebih unik dengan pendekatan storytelling sembari memasukkan produk atau layanan mereka dan mengemasnya ke dalam alur cerita web series. Di Indonesia, banyak sekali web series yang hadir di berbagai platform. 

Oleh sebab itu, pengemasan cerita yang menarik dan bersifat soft selling penting sekali untuk menarik audiens agar terdorong untuk menonton karena alur ceritanya. Media ini dipercaya mampu meningkatkan brand awareness dan brand perception secara tidak langsung.

BACA JUGA: Chery Terapkan Entertainment Marketing lewat Indonesian Idol

Strategi ini mirip dengan product placement di film atau acara TV yang dilakukan merek dengan untuk menciptakan hubungan positif antara produk dan karakter populer. Merek tersebut akan mendapat manfaat dari popularitas acara dan mendapat perhatian dari orang-orang.

Strategi product placement sudah dilakukan oleh merek sejak lama, dan ternyata masyarakat, khususnya Gen Z tidak merasa terganggu dengan product placement pada konten yang mereka tonton. Hal ini dibuktikan dengan survei yang dilakukan oleh CivicScience mengenai preferensi Gen Z di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2020 terkait product placement. 

Berdasarkan survei tersebut, 16% responden merasa bahwa product placement merupakan pendekatan yang bagus, dan 58% responden tidak merasa terganggu dengan hal tersebut. Sementara itu, 26% responden merasa product placement ini membuat mereka berpikir negatif mengenai produk dan film atau acara TV yang mereka tonton.

Berbeda dengan product placement pada film atau drama, strategi pemasaran dengan menggunakan web series biasanya lebih kompleks. Alasannya, merek juga terlibat dalam proses, dari ide cerita hingga proses produksi film.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS