Lifestyle & Entertainment

Membaca Karakter Communaholic Gen Z

Photo Credits: 123rf

Gen Z merupakan generasi yang cukup gemar dalam bersosialisasi. Lahir di era keterbukaan teknologi dan informasi membuka banyak kesempatan bagi generasi ini untuk berkomunikasi dengan berbagai orang dari latar belakang berbeda. Tak heran, jika Gen Z banyak membentuk atau pun bergabung dengan berbagai komunitas.

Ya, generasi ini merupakan generasi “communaholic”. McKinsey & Company dalam riset berjudul ‘True Gen: Generation Z and its implications for companies’ menemukan, Gen Z merupakan generasi yang sangat inklusif.

Tumbuh dan berkembang di era digital membuat mereka tidak mempermasalahkan pertemuan secara fisik maupun daring. Mereka menghargai keberadaan komunitas daring karena dianggap memungkinkan orang-orang dari latar belakang ekonomi berbeda untuk terhubung lantaran satu minat yang sama. Gen Z menghargai hal itu.

65% Gen Z dalam survei ini percaya, komunitas tercipta oleh sebab dan kepentingan, bukan latar belakang ekonomi atau tingkat pendidikan. Persentase ini jauh melampaui generasi terdahulu mereka, yakni Milenial, X, dan Baby Boomer. 52% Gen Z juga menganggap wajar jika individu ingin menjadi anggota kelompok yang berbeda.

Mereka bukanlah generasi yang mempermasalahkan perpindahan antar kelompok. Kembali lagi, laporan American University, Washington DC berjudul “Engaging Gen Z on Social” menemukan, Gen Z lebih liberal dalam memandang diversity and inclusion.

Retensi Communaholic Gen Z di Lingkungan Kerja

Membaca karakter communaholic Gen Z, perusahaan dapat menjadikan hal ini sebagai momentum yang tepat untuk meretensi hingga meningkatkan loyalitas karyawan Gen Z mereka.

Perusahaan dapat memberikan wadah bagi karyawan Gen Z untuk bergabung dengan komunitas-komunitas yang mereka minati. Antara lain, dengan membentuk komunitas e-sports, olahraga, musik, dan berbagai bentuk komunitas lain bagi para karyawan.

Group of businesspersons discussing work at the office

Selain itu, perusahaan juga bisa menciptakan ruang kerja open space yang memungkinkan karyawan lebih mudah dalam berinteraksi dan berkolaborasi yang ujung-ujungnya dapat menjembatani mereka pada komunitas-komunitas yang mereka sukai.

Upaya mengakomodir gaya communaholic Gen Z ini telah dilakukan oleh sejumlah operator co-working space, seperti WeWork dan JustCo.

Mereka memiliki tim komunitas yang secara khusus bertugas untuk menghubungkan para karyawan dari tenant mereka untuk terhubung dan aktif bergabung bersama komunitas yang mereka minati. Bahkan, tim komunitas JustCo merancang hingga 700 jam program komunitas setiap tahun bagi anggota mereka.

“Menjadi bagian dari komunitas dapat menawarkan peluang untuk memanfaatkan jaringan profesional untuk berkolaborasi, mengungkap sinergi bisnis, berbagi wawasan, atau sekadar memperluas lingkaran profesional mereka,” imbuh Kong Wan Sing, Founder and CEO JustCo.

MARKETEERS X








To Top