Mengapa Masyarakat Kelas Menengah Cocok sebagai Pasar?

marketeers article
Ilustrasi masyarakat kelas menengah. Sumber gambar: 123rf.

Seorang pemasar atau perusahaan biasanya menyasar penjualan produknya pada masyarakat kelas menengah. Biasanya, porsi penjualan lebih besar di segmen tersebut dibandingkan dengan kelas atas atau kelas bawah.

Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran sekaligus Chairman MarkPlus, Inc. dalam bukunya Supply Chain Economic menjelaskan peran masyarakat kelas menengah sangat penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sebab, dalam struktur piramida ideal, kelas menengah mempunyai jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan kelas atas dan kalah jumlah dari kelas bawah yang melebar.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Bank Dunia (World Bank) hampir separuh penduduk Indonesia merupakan kelas menengah yang jumlahnya mencapai 114,7 juta jiwa dari total keseluruhan sebanyak 270 juta penduduk. Artinya, ini merupakan pasar yang sangat besar dan potensial dalam mengembangkan bisnis.

BACA JUGA: Memahami Sustainable Marketing Enterprise dan Submodelnya

Hermawan bilang secara karakteristik kelas menengah memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap goncangan ekonomi. Daya beli dan konsumsi mereka pun sangat tinggi, bahkan di saat kondisi krisis ekonomi.

Untuk bisa merawat dan menambah jumlah masyarakat kelas menengah yang bisa dijadikan pasar potensial, diperlukan beberapa aspek yang harus diperbaiki. Pertama, adalah kualitas kesehatan yang harus dijaga dan ditingkatkan.

Adapun pembangunan kualitas hidup manusia diukur dengan human development indexes (HDI). Di Indonesia, sejak tahun 2005 hingga 2011 tingkat HDI berada di kualitas medium.

BACA JUGA: Jobdesk Marketing: Perkuat Merek dan Tingkatkan Penjualan

Secara umum, HDI dapat dimanfaatkan sebagai acuan untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program pembangunan manusia yang telah dilakukan. HDI dapat digunakan pula sebagai alat bantu pembangunan daerah yang lebih mengakomodasikan dimensi pembangunan kualitas hidup manusia.

Kedua, yakni kualitas pendidikan yang memainkan peranan besar dalam mencapai visi makmur suatu negara sehingga memengaruhi daya beli yang berdampak pula pada peningkatan potensi penjualan.

Michael Porter, professor manajemen terkemuka dunia menjelaskan pendidikan formal berperan strategis dalam pembangunan ekonomi. Tanpa pendidikan, maka akan ada penghalang yang kokoh dalam upaya pembangunan ekonomi.

Kelas Menengah Pemicu Pertumbuhan Ekonomi

Dalam laporan Bank Dunia bertajuk Global Development Horizontal 2011 Multipolarity: The Global Economy menempatkan Indonesia menjadi salah satu negara penopang pertumbuhan ekonomi dunia hingga tahun 2025. Hal ini disebabkan besarnya masyarakat kelas menengah di Tanah Air.

Bank Dunia memprediksikan lebih dari 50% pertumbuhan ekonomi dunia akan disumbangkan oleh negara berkembang sebagai kekuatan ekonomi baru. Bahkan, kekuatan ekonomi baru ini akan membantu pertumbuhan negara-negara miskin.

Melalui negara berkembang yang kaya akan kelas menengah dan sumber daya alam bakal mendapatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata setiap tahun sebesar 4,7% selama 2011 hingga 2025. Raihan ini lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju yang hanya tumbuh 2,3% per tahun.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi akan dipicu oleh dua faktor utama, yaitu arus ekspor yang tinggi dan konsumsi dalam negeri. Arus ekspor menunjukkan adanya daya saing tinggi dari produk yang dihasilkan suatu negara.

Sementara itu, konsumsi dalam negeri adalah akibat adanya peningkatan jumlah konsumen. Ini dipengaruhi oleh peningkatan daya beli masyarakat maupun pertumbuhan penduduk usia produktif yang tinggi.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS