Mengapa Pemain OTT Streaming Ramai Beriklan di Media Konvensional?

marketeers article
Papan iklan Mola di Sarinah Thamrin, Jakarta (Foto: Marketeers)

Platform over-the-top (OTT) streaming service seperti Netflix, Mola, atau Bioskop Online terpantau mulai banyak ditemukan beriklan di tv nasional, papan iklan luar ruang (out of home/OOH), hingga aktivasi di berbagai komunitas. Platform OTT yang di awal kehadirannya dianggap sebagai disrupsi, kini tampil semakin inklusif. Langkah ini dilakukan oleh para pemain demi mendapatkan eksposur seluas-luasnya.

“Disrupsi itu pasti ada ketika sebuah pasar mulai membesar. Meski begitu, bagaimana para pihak yang terkena disrupsi ini bisa riding on the disruption. Misalnya seperti yang terjadi ketika bioskop terdisrupsi dengan platform OTT, pendekatan kolaborasi menjadi solusi. Begitu juga sebaliknya, para pemain OTT mulai melakukan advertising di OOH dan layar bioskop sebagai upaya riding on the disruption,” ujar Ajeng Parameswari, President of Digital Business Visinema Group saat bertandang ke Studio Marketeers di Jakarta, Senin (20/6/2022).

Ajeng percaya, disrupsi memiliki peran penting khususnya dalam mendorong pertumbuhan pasar. Dan ketika pasarnya membesar, diharapkan semua pihak dapat menangkap pasar tersebut.

“Disrupsi adalah hal yang baik, khususnya untuk membesarkan pasar yang kita punya. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan disrupsi tersebut untuk riding the wave. Begitu juga untuk OTT streaming yang akan sangat disayangkan jika hanya beriklan di platform digital. Pasalnya, mendapatkan impresi bisa dari mana saja, seperti di jalan dengan OOH, di TV, dan platform lainnya untuk mendapatkan impresi seluas-luasnya,” jelas Ajeng.

Opini serupa juga disampaikan oleh Janoe Arijanto, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I). Dalam kesempatan berbeda, Janoe mengatakan bahwa rumus mengenai platform digital hanya perlu mendorong eksposur di platform digital saja telah ditinggalkan. Pasalnya, audiens yang multisegmen kini menggunakan cross platform secara tidak terbatas.

Janoe melihat fenomena Netflix, Mola, dan platform OTT streaming lain yang mulai beriklan di saluran televisi nasional dan OOH menjadi tanda bahwa perusahaan tidak lagi melihat bahwa penggunaan media digital sebagai satu-satunya pasar yang dapat diraup. Konsumen yang lebih dominan menggunakan saluran televisi konvensional, juga dapat diraup ke dalam pangsa pasar platform OTT streaming on demand.

Landscape yang ditandai dengan interaksi multiplatform, meniadakan batas-batas antara konvensional dan non-konvensional, digital dan non-digital, karena batas diantara keduanya sudah buram,” lanjut Janoe.

Dengan banyaknya iklan OTT Streaming atau media yang dapat digunakan untuk memperoleh konten, masyarakat pun menjadi konsumen multiplatform. Untuk meraup pangsa pasar yang bersifat multiplatform, tentu pendekatan di lebih banyak titik kepada konsumen diperlukan.

Hal serupa juga dilakukan oleh Bioskop Online. “Menjadi bagian dari Visinema Group, Bioskop Online tidak hanya beriklan di digital tapi juga untuk mendapatkan ground kami mendekatkan diri ke komunitas, bekerja sama dengan reviewer, komunitas film, dan membuat event untuk memperkenalkan Bioskop Online. Bagi kami, tidak cukup jika kami hanya menggunakan iklan digital,” ungkap Ajeng.

Meski begitu, untuk urusan anggaran, Ajeng menyebut platform digital masih memegang porsi lebih dalam memainkan iklan Bioskop Online sehari-hari. Anggaran ini bergeser ketika perusahaan menjalankan program tertentu, seperti saat meluncurkan platform aplikasi atau film baru. Ketika itu, anggaran akan disesuaikan dengan target audiens.

“Ketika meluncurkan aplikasi, anggaran banyak kami arahkan ke iklan offline, seperti OOH. Begitu juga ketika kami meluncurkan film orisinal dari sebuah daerah dan ingin menumbuhkan nilai “local pride”, maka iklan OOH di daerah tersebut akan lebih banyak. Namun untuk aktivitas sehari-hari, iklan digital menjadi basis tempat kami beriklan,” tutup Ajeng.

Related

award
SPSAwArDS