Mengenal Affiliate, Influencer, dan KOL Marketing

marketeers article
Sumber: 123RF

Siapa yang tidak mengenal affiliate, influencer dan KOL (Key Opinion Leader) marketing? Istilah ini cukup populer di dunia internet. Banyak terminologi yang sering tumpang tindih ketika bicara mengenai ketiga pendekatan tersebut. Ada banyak kemiripan antara ketiganya, namun ada juga perbedaan yang cukup fundamental.

Pertama, affiliate. Iwan Setiawan, CEO Marketeers menjelaskan, affiliate pertama kali muncul di dunia e-commerce. Pada waktu itu, Amazon memanfaatkan pendekatan affiliate. Jadi, setiap blogger atau content creator biasanya menyematkan link, yang pada akhirnya mendorong pembaca blog atau followers untuk berbelanja di Amazon.

“Dari situ, Amazon dapat melihat blog mana yang menghasilkan sales untuk mereka dan menciptakan sistem komisi. Blogger atau content creator akan mendapatkan komisi setiap kali ada penjualan yang bersumber dari affiliate links mereka,” kata Iwan.

Kedua, influencer. Menurut Iwan, influencer sebetulnya memiliki pengaruh besar. Sebab, semua tingkah laku ataupun semua yang mereka lakukan di media sosial banyak dipantau dan diikuti oleh followers mereka.

Ada pula yang disebut sebagai Key Opinion Leader (KOL). KOL adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas, karena mereka memiliki pengetahuan atau ilmu yang sangat mumpuni di suatu kategori tertentu. Dengan demikian, ketika mereka memberikan suatu opini, banyak yang percaya dan mendukung hal tersebut.

“Ketiga pendekatan ini sangat blurring perbedaannya. Namun, untuk perbedaan signifikan dari KOL dan influencer adalah influencer tidak memiliki skill atau ilmu tertentu yang memiliki kredibilitas. Namun, perilaku dan karakter yang mereka miliki biasanya mirip atau sama dengan followers yang mereka punya,” ujar Iwan.

Iwan kemudian memaparkan mengenai alasan para brand menggunakan ketiga pendekatan tersebut. Pertama, seringkali brand kesulitan menjangkau konsumen. Ketika ingin membeli sebuah produk dan jasa, mereka lebih percaya teman atau orang terdekat, dibandingkan dengan brand tersebut.

“Tentunya, ada conflict of interest ketika brand mengomunikasikan sesuatu. Karena brand tersebut tidak memiliki trust yang tinggi di konsumen, mereka harus memiliki perantara, sehingga mereka seringkali memanfaatkan affiliate, influencer dan KOL,” ucapnya.

Selanjutnya, brand seringkali mencari cara yang instan untuk berjualan. Mereka akan masuk ke komunitas yang sudah terbentuk. Menurut Iwan, apabila mereka tidak ingin makan waktu, brand tersebut akan membeli akses untuk masuk ke komunitas yang sudah dibentuk oleh para influencer.

Ketiga, memanfaatkan ketiga pendekatan tersebut menjadi semacam jembatan penghubung atau trust. Ketiga hal tersebut dapat menghubungkan dua pihak yang sebelumnya tidak saling percaya, karena ada banyak conflict of interest. Iwan menjelaskan, ada dua model besar yang biasa digunakan ketika bicara mengenai metode tersebut.

Pertama, model endorser. Model ini kerap didengar ketika bicara mengenai media digital celebrity. Biasanya bersifat short term, hanya terbatas pada 1-5 unggahan saja dan dipilih berdasarkan seberapa besar jangkauan yang digital celebrity tersebut miliki dan seberapa sering engagement yang terjadi dengan followers mereka.

“Para selebriti ini seakan menggunakan layanan atau produk tersebut dan merekomendasikannya ke followers mereka. Karena sifatnya soft sell atau hard sell, seringkali terasosiasi hanya pada satu produk tertentu. Jadi, tidak langsung kepada corporate brand atau perusahaannya,” tuturnya.

Sementara itu, model lainnya yaitu ambassador model atau yang dikenal dengan istilah Brand Ambassador (BA) akan merekomendasikan secara rutin brand tersebut. Sifat model ini lebih long term. Biasanya, mereka dipilih untuk merepresentasikan sebuah brand secara jangka panjang.

“Untuk model ini, para brand harus memilih orang yang memiliki personality yang sama atau cocok dengan brand tersebut. Harus ada kecocokan. Kontrak mereka jangka panjang. Jadi, biasanya mereka akan mewakili brand tersebut secara keseluruhan,” kata Iwan.

 

 

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS