Industry

Mengenal Saptahelix, Tujuh Strategi Pemulihan Pariwisata

Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang bisa disebut tahan banting ketika menghadapi suatu tantangan. Misalnya saja pariwisata Indonesia ketika harus menghadapi terorisme di Bali. Pulau Dewata dapat pulih dengan cukup cepat. Namun, kali ini berbeda karena semua dituntut mengatasi pandemi COVID-19 dan itu bukan sesuatu yang mudah.

Hal tersebut diungkapkan oleh Chairman Indonesia Tourism Forum (ITF) Sapta Nirwandar dalam acara Virtual Jakarta CMO Club bertajuk Responsible Tourism and the Travel Industry Recovery, Selasa (06/07/2021). Sapta menuturkan bahwa untuk menghadapi tantangan ini, para pemain di industri harus berpikir agar bisa menghadirkan pariwisata dengan konsep sustainable.

Sapta memaparkan ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam konsep pengembangan pariwisata sustainable di Indonesia. Pertama, meningkatkan kualitas hidup. Kedua, memperkuat nilai sosial budaya. Ketiga, menciptakan nilai tambah yang tentunya bisa membantu masyarakat. Misalnya dengan peduli pada lingkungan sekitar serta menghadirkan lapangan kerja baru.

“Kehadiran pandemi membuat adanya sejumlah upgrade kebutuhan dari wisatawan yang perlu dipenuhi para pelaku usaha di industri ini. Hal tersebut terangkum dalam program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yaitu penerapan protokol kesehatan berbasis cleanliness, health, safety, dan environment sustainability (CHSE),” ungkap Sapta.

Meski masih harus menghadapi kesulitan karena kasus COVID-19 yang belum menurun dan kembali melumpuhkan pariwisata. Sapta menjelaskan pentingnya untuk menyiapkan strategi untuk masa pemulihan. Strategi ini ia namai, Saptahelix.

Di dalamnya terdapat tujuh aspek untuk masa pemulihan jangka pendek hingga panjang atau sekitar tiga tahun ke depan. Pertama, ia menjelaskan pentingnya memahami perubahan kebiasaan dari wisatawan. Kedua, pentingnya campur tangan dari pemerintah untuk menyiapkan pembukaan kembali destinasi wisata.

Ketiga, protokol kesehatan dan keamanan di industri pariwisata yang terintegrasi. Setelah CHSE, hal lain yang perlu diperhatikan dan ditingkatkan adalah penyediaan obat-obatan serta terus memperluas jangkauan vaksin. Keempat, pendudukan, komunikasi, serta marketing untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari wisatawan.

Sumber: Marketeers

“Kelima, perlunya investasi baru di bidang teknologi informasi (IT) dan berbagai research and development di dalamnya. Dengan permasalahan wabah yang ada, penting untuk para pelaku usaha di industri ini menyiapkan layanan yang contactless,” jelas Sapta.

Ia menambahkan, keenam, dari perubahan kebiasaan dari wisatawan, perlu disadari adanya kebutuhan untuk menghadirkan model bisnis baru dari segi produk dan layanan. Hal ini dapat diwujudkan dengan investasi di bidang IT tadi.

Ketujuh, para pelaku usaha harus memahami bahwa saat ini mereka harus berusaha untuk terus mempertahankan bisnis. Karena itu, pembagian tanggung jawab di antara stakeholder perlu dilakukan. Kerja sama dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjaga keberlangsungan usaha.

Menutup pemaparannya, Sapta menuturkan tiga proyeksi untuk industri pariwisata pada tahun 2021. Masing-masing adalah masih menurunnya kedatangan wisatawan, hal ini jelas terjadi secara drastis karena situasi pandemi yang belum membaik. Selanjutnya adalah semua masih berusaha untuk pulih dari gelombang COVID-19 sebelumnya. Dan, hingga akhir tahun nanti vaksinasi tampaknya belum bisa diterima seluruh masyarakat.

MARKETEERS X








To Top