Business

Mengintip Startegi Pemasaran Apple Menjual Barang Premium

Sumber gambar: 123rf.com

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Apple Inc. dikenal sebagai  produsen perangkat elektronik mewah dengan harga yang mahal. Meskipun juga menjual barang-barang dengan harga tidak terlalu mahal, namun masyarakat masih menilai bahwa Apple merupakan barang mewah. Alhasil, hampir di seluruh produk-produk yang menawarkan harga premium selalu habis di pasaran.

Lalu, bagaimana stretegi pemasaran yang dilakukan oleh Apple? Chief Executive Officer (CEO) MarkPlus, Inc. Iwan Setiawan membeberkan rahasia pemasaran yang dilakukan oleh Apple. Ia menyebut, strategi bisnis yang dilakukan Apple memang menyasar segmen pasar kalangan elite. Sehingga, diciptakan pencitraan produk atau brand image barang mewah tiap kali perusahaan meluncurkan produk baru.

Iwan mengatakan, dalam memproduksi barang, Apple selalu membuat dengan dua katagori, yakni produksi massal kelas menengah ke bawah dan produksi terbatas untuk kelas premium. Biasanya, dalam peluncurannya perusahaan akan melakukan secara bersamaan. Tujuannya, agar citra barang-barang kelas menengah ke bawah ikut terkerek naik dan dicap sebagai bagai barang mahal.

“Contohnya, Apple, kan, sering kali bikin aneh produknya, tidak hanya yang produk massal tapi produk yang tahu hanya orang-orang tertentu saja yang bisa beli. Misalnya, bikin Apple Mac Pro Wheel, kalau dilihat barang ini hanya roda yang dipasang di Mac Pro supaya bisa jalan dan kita berpikir ini cuma roda empat ada skrupnya dipasang di bawah lemari seperti lemari geser yang bisa dipindahin. Paling harganya Rp 100 ribu. Tapi, Apple melakukan price positioning yang mana wheels-nya harus mahal dan aksesoris ini mereka jual US$ 699, harga yang sangat mahal sekali,” ujar Iwan dalam dialog daring, Rabu (24/11/2021).

Iwan menambahkan, Apple juga memproduksi smartphone yang secara teknologi tidak kalah dengan pemain lain. Bahkan, harganya juga dibanderol separuh di bawah aksesoris roda pada Apple Mac Pro Wheel. Untuk pemasarannya, perseroan melakukannya secara bersamaan dengan produk kelas premium itu.

“Untuk counter balance itu Apple cipatkan satu produk lagi diluncurkan barengan yang meng-counter balance dengan posisi yang lebih tinggi. Jadi, kurang lebih rata-rata bertemu di tengah, sehingga orang itu menilai Apple ini barang-barang yang mahal,” kata dia.

Strategi pemasaran tersebut terbukti ampuh dalam membangun citra produk. Terbukti, hingga sekarang produk-produk kelas premium Apple justru lebih laku di pasaran dibandingkan produk massal yang dijual dengan harga lebih terjangkau semua kalangan.

“Maka, sering kali produk murahnya tidak pernah laku, karena dia selalu dikesankan atau dipersepsikan sebagai produk yang harga brand prestige-nya di atas dengan pemain-pemain lain, meskipun yang lain mungkin punya smartphone yang jauh lebih baik secara teknologi. Tapi, kalau ditanya siapa yang brand prestige-nya lebih tinggi, pasti selalu Apple yang di atas. Ini sesuatu yang secara disiplin selalu diciptakan,” tandasnya.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top