Meski Pandemi Berlalu, Penyelenggaraan MICE Akan Tetap Hybrid

profile photo reporter Eko Adiwaluyo
EkoAdiwaluyo
08 Juni 2022
marketeers article
Ilustrasi kegiatan MICE. Foto: www.123rf.com
Masa paceklik untuk industri Meeting Incentive Conference Exhibition (MICE) mulai berangsur-angsur berlalu. Sejak tahun 2021, industri ini mulai menemukan bentuk baru dalam menjalankan beragam kegiatan. Teknologi digital memiliki peran besar pada proses perbaikan kondisi di industri MICE. Melahirkan model MICE secara hybrid.
Sekilas mengupas kondisi di tahun pertama pandemi, bisa dikatakan industri ini benar-benar lumpuh total. Hampir semua kegiatan pameran, pertunjukan, seminar, dan lainnya tidak bisa dijalankan akibat kebijakan pemerintah dalam menekan penyebaran pandemi.
“Salah satu industri yang paling menderita akibat pandemi adalah MICE. Kondisi ini terjadi di seluruh dunia. Sebab, karakteristik MICE adalah mengumpulkan orang, sedangkan pandemi membuat orang tidak boleh berkumpul,” kata Hendra Noor Saleh Presiden Direktur Dyandra Promosindo.
Ia menambahkan, potensi kehilangan pendapatan industri MICE selama tahun 2020 bisa mencapai lebih dari 90% dari kondisi normal. Karena hanya sedikit kegiatan yang sempat dan bisa terselenggara. Itu saja dengan pembatasan yang sangat ketat.
Pada akhirnya, proses adaptasi terjadi di industri ini, yakni dengan memanfaatkan platform digital. Kondisi ini juga terjadi di belahan dunia lainnya. Sehingga, platform-platform meeting menjadi pilihan semua orang, baik di kalangan pebisnis, pemerintahan, hingga komunitas.
Dalam laporan The State of Virtual Events 2021 dari AnyRoad, platform Zoom menjadi primadona di antara berbagai platform meeting. Pada laporan itu, sekitar 50,3% responden memilih Zoom untuk kegiatan online. Disusul oleh Microsoft Team dan Facebook Live yang masing-masing dipilih oleh 12% dan 9,4% responden.
Gerbang menuju masa endemi sudah semakin dekat. Tentunya, hal ini menjadi angin segar bagi industri MICE. Antusiasme untuk menggelar event MICE semakin tinggi pada tahun ini. Hanya saja, menurut Hendra, bila sudah terjadi pelonggaran justru harus meningkatkan kewaspadaan para pelaku MICE. Jangan sampai endemi membuat pemain MICE lengah pada protokol kesehatan dan berpotensi menimbulkan cluster baru.
Di sisi lain, selama pandemi orang sudah terbiasa dengan format kegiatan online. Pada masa endemi model online ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Penggabungan kegiatan MICE offline dan online alias hybrid atau omni akan terus terjadi. Namun, seperti ditekankan Hendra, pada kanal offline tetap harus menerapkan protokol kesehatan.
“Jadi, jangan bermimpi menyelenggarakan event seperti sebelum pandemi. Justru, penggabungan antara online dan offline atau model hybrid akan terus berlangsung. Tinggal mencari titik keseimbangannya,” terang Hendra.
Gaery Undarsa, Co-Founder dan Chief Marketing Officer tiket.com juga sepakat bahwa  penyelenggaraan event MICE secara virtual maupun hybrid akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari adaptasi kebiasaan baru bagi masyarakat. Bahkan, akan menjadi alternatif yang tetap digemari masyarakat. “Kami melihat model aktivitas dengan format virtual maupun hybrid menjadi sebuah solusi yang efektif dan efisien di masa transisi ke endemi dan masa berikutnya,” kata Gaery.
Gaery menegaskan, tiket.com mendukung rencana pemerintah untuk mengakhiri status pandemi dan mulai ke masa endemi. Terutama, melihat kondisi pandemi yang sudah semakin terkendali. Lalu, tingkat vaksinasi masyarakat sudah sampai ke tahap booster.
Bisa dikatakan pelaku MICE dan pendukungnya serta merek masih tetap tidak akan meninggalkan kanal digital. Apalagi, saat ini muncul fenomena metaverse yang berpotensi menjadi wahana baru dalam pemasaran dan MICE.

    Related