Mobile Marketing Tak Akan Matikan Iklan Televisi

marketeers article

Penetrasi smartphone di Indonesia masih di bawah 40%, bisa jadi alasan mengapa pergerakan mobile marketing tak sekencang berselancar internet di jaringan 4G LTE. Padahal, banyak manfaat yang bisa dipetik merek lewat pemasaran mobile.

Rohit Dadwal, Managing Director of Mobile Marketing Association (MMA) mengatakan, mobile marketing baru menguasai kurang dari 5% dari total belanja iklan (advertising expenditure/adex) di Indonesia. Ini disebabkan karena banyak merek sudah kudung lama beriklan di media konvensional, seperti televisi, radio, media cetak, dan media luar ruang.

“Di Asia Pasifik, penetrasi mobile marketing baru 7%-10%. Secara global, pertumbuhannya 20%-29%. Saya yakin dalam dua-tiga tahun ke depan, angkanya akan naik dua kali lipat,” ujarnya sata ditemui seusai Mobile Marketing Association Forum di The Rizt Carlton Mega Kungingn, Kamis, (22/9/2016).

Rohit menilai, saat ini, mulai banyak pemasar yang mengerti nilai dari sebuah mobile marketing, yaitu kemampuan integrasi lintas platform yang tak bisa diperoleh oleh media apa pun.

“Beberapa kategori produk telah mengalokasikan belanja televisi dan media luar ruang-nya ke mobile. Karena mobile telah menjadi layar kedua bagi produk,” ungkapnya.

Ia menganggap, pemasar kini masih dalam tahap coba-coba untuk memanfaatkan mobile marketing untuk strategi mereknya. Mereka mesti perlu belajar banyak mengenai potensi-potensi yang bisa digali dari keberadaan piranti mobile itu.

Salah satu benefit dari pemasaran mobile adalah merek dapat melakukan targeting sesuai audiensnya secara spesifik. Selain itu, pengukurannya pun lebih terperinci.

“Satu hal yang penting, mobile tidak mematikan media televisi dan cetak. Mobile hadir untuk melengkapi, agar menghasilkan kampanye pemasaran yang terintegrasi,” tuturnya.

Meskipun ia mengakui bahwa pada praktiknya, banyak merek yang menyusutkan belanja iklan tradisionalnya ke mobile. Sementara itu, jika merek menyiapkan bujet baru, 70%-nya akan mengalokasikan ke mobile marketing.

“Ini seperti evolusi dari dunia pemasaran itu sendiri. Kita tahu, kehadiran televisi merebut pasar iklan radio. Begitu juga kehadiran mobile, mungkin suatu saat akan seperti itu. Namun, tak ada dari media-media itu yang mati sampai saat ini kan?,” tutur Rohit.

Rohit kembali mengatakan, sebaiknya, merek mengalokasikan setidaknya 15%-20% bujet iklannya saat ini untuk mobile marketing. “Sekarang, saya lihat masih mengalokasikan 1%, 2%, 3%. Saya yakin porisnya akan menjadi 20%, 30%. 40%.”

Yang perlu dicermatai pula adalah pertumbuhan mobile marketing tak semata didorong oleh belanja iklan merek di mobile. Justru, kekuatan terbesar berada pada pelaku UMKM maupun perseorangan.

“Uang yang dihabiskan merek di mobile itu jauh lebih sedikit ketimbang uang yang dihabiskan UMKM dan individu. Pemilik online shop, pedagang, maupun pengusaha restoran menghabiskan belanja iklan di mobile lebih banyak ketimbang raksasa konsumer seperti Indofood, Mayora, atau Danone,” tutup Rohit.

Editor: Sigit Kurniawan

Related

award
SPSAwArDS