Monetiasi Nusameta, WIR Group: Kami Siapkan Model Advertisement

marketeers article
Manajemen WIR Group (Foto: Hafiz/Marketeers)

Indonesia resmi akan hadir di dunia metaverse. Proyek Metaverse Indonesia yang digawangi oleh PT WIR ASIA Tbk (WIR Group) kini menyandang nama Nusameta. Seiring dengan pengembangannya secara utuh yang akan diluncurkan tahun depan, Nusameta telah menyiapkan sistem monetisasi. 

Ekosistem produk dan layanan di dunia Nusameta akan diperkenalkan secara bertahap. Begitu juga dengan monetisasi Nusameta di dunia metaverse ini. Disampaikan oleh Michael Budi, CEO & Co- Founder WIR Group, salah satu model bisnis yang tengah dikerahkan adalah model advertisement atau iklan. 

“Sudah cukup banyak merek yang tertarik untuk bergabung di Nusameta. Banyak dari mereka untuk menjangkau target pasar yang relevan. Sektor yang tertarik pun masih cukup variatif,” ujar Michael Budi kepada Marketeers saat memperkenalkan kantor baru WIR Group di SCBD Jakarta, Senin (19/9/2022).

Michael melanjutkan, motif dari para merek ini beragam, ada yang untuk mendulang awareness, menjalin engagement hingga membangun platform edukasi. 

Model periklanan yang diusung kurang lebih sama dengan yang ada di dunia nyata. Fitur interaksinya saja yang akan berbeda. Michael yakin, metaverse ini akan segera diadopsi oleh masyarakat untuk berinteraksi, khususnya dari para Gen Z yang akan hidup di dalam metaverse. 

Dari sini, pengiklan dari berbagai industri yang telah menggelontorkan anggaran untuk beriklan di internet, bisa berpindah ke metaverse.

“Bisa dibilang semua sektor industri hari ini sudah beriklan di internet web 2.0. Tentu, mereka juga bisa beriklan di dunia interneet web 3.0 yang lebih immersive. Hanya saja saat ini adopsi penggunanya akan diawal oleh generasi muda lebih dulu,” terang Michael. 

Namun, apakah metaverse ini hanya milik generasi muda atau Gen Z? Belum tentu. Jika melihat siklus penggunaan media sosial, diawali pula oleh generasi muda. Namun kini, media sosial sudah diramaikan oleh semua generasi. Begitu juga di metaverse, yang early adopter-nya adalah Gen Z. 

“Target market yang sudah mulai mengubah gaya hidup menjadi pemicu para pengiklan untuk berpindah dan mengubah cara mereka beriklan,” lanjut Michael. 

Jangan karena FOMO

Meski metaverse sedang ramai diperbincangkan dan Nusameta telah membuka model monetisasi, Michael selalu menyarankan ke para mitra atau calon pengiklan di Nusameta untuk tidak beriklan karena perasaan fear of missing out (FOMO), takut kehilangan momentum, atau sekadar ikut-ikutan.  

Mereka harus membaca audiens dan target pasar mereka. Apakah mereka relevan dan masuk ke metaverse juga. Jika strategi yang diterapkan tidak tepat, maka metaverse ini tidak akan ada manfaatnya. 

“Jangan FOMO. Ketahui apakah konsumen Anda hadir di metaverse. Di sisi lain, banyak faktor yang juga harus diperhatikan pemasar, mulai dari tentukan target, kenali karakter audiens, hingga menyiapkan cara penyampaiannya ke target audiens,” tutup Michael. 

Soal kesiapan Nusameta, Michael memaparkan platform ini akan terus dibangun secara bertahap. Meski monetisasi Nusameta telah disiapkan sejak sekarang, peluncuran Nusameta secara utuh ditargetkan pada tahun depan. Dan rencana ke depannya, platform ini akan terus dikembangkan dan diperbarui.

Related

award
SPSAwArDS