Mutiara Dari Indonesia, Bahan Bakunya Tetap Impor

marketeers article

Indonesia boleh saja memiliki pangsa pasar mutiara terbesar di dunia. Sebagai negara dengan rentang pantai terpanjang di dunia, wajar saja negara ini berstatus negara maritim dan hasil lautnya yang amat potensial baik secara komoditas maupun wisata.

Tapi, ternyata menghasilkan mutiara tidak segampang dikira dan semua bahan bakunya asli dari sini. “Budi daya mutiara itu membutuhkan komponen bernama sel inti atau nukleus untuk dimasukan ke dalam kerang, satu tahun atau dua tahun sebelum dipanen. Jadi, untuk menghasilkan mutiara seperti yang kita kenal, perlu mendatangkan nukleus dari Mississippi, Amerika Serikat,” ujar Kepala Bidang Luar Negeri Asosiasi Budi Daya Mutiara Raditya Purnomo dalam Seminar Lombok Sumbawa Pearl Festival 2015 di Kota Mataram, NTB, Selasa (15/9/2015).

Menurut Raditya jika dihitung kurs dolar AS saat ini terhadap rupiah, untuk membawa satu paket nukleus dari AS dengan persediaan setahun adalah Rp 145 juta. Dari AS tidak dikirim langsung ke Indonesia, tetapi ada proses lanjutan lagi di Jepang sebelum dikirim ke sini. Jika dilihat dari nominalnya untuk memudidayakan mutiara dalam jumlah besar untuk satu tahun, nilai itu tampak kecil dibanding nilai jual mutiara yang mahal.

“Tapi, masalahnya adalah ketika sampai di bea cukai, dikiranya nukleus itu adalah mutiara. Padahal bukan. Jadi, bea itu yang memberatkan. Sering sekali, kami dari asosiasi turun tangan langsung ke bea cukai untuk meyakinkan mereka bahwa nukleus itu bukan mutiara,” tukas Raditya.

Dan, jika ingin untung kembali dalam nominal lebih dari biasanya, pedagangan mutiara tidak bisa menjualnya di dalam negeri. Harus diekspor agar harga bisa menyesuaikan dengan dinamika dolar AS.

Related

award
SPSAwArDS