Nasib IKM Otomotif Hadapi Pandemi COVID-19

marketeers article
Production line of automobile plant, paint shop, conveyor. Finished product

Pandemi COVID-19 membawa berbagai tantangan bagi ragam jenis industri, tak terkecuali otomotif. Sektor ini terkena imbas yang cukup signifikan, dan mengharuskan para pemain merancang startegi jitu guna mempertahankan stabilitas bisnis di tengah pandemi ini.

Data yang dihimpun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan, pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) komponen dan suku cadang otomotif pendukung masih tetap berproduksi. Meski demikian, sebagian besar mengalami penurunan permintaan dari vendor, Agen Pemegang Merek (APM), hingga pelanggan, di mana tingkat ketergantungannya sangat tinggi.

Sebagai contoh, jika Honda dan Yamaha berhenti produksi, maka potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp 2 miliar untuk IKM anggota Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK).

Data juga menunjukkan, akses distribusi dan pengiriman masih bisa berjalan sepanjang jalur tol nasional (Jakarta-Cikampek dan Pantura) masih dapat dilalui. Adapun beberapa kendala yang dihadapi IKM komponen dan suku cadang, antara lain harga bahan baku yang lebih mahal karena pengaruh kurs dolar.

Tantangan juga datang dari kebijakan physical distancing yang diterapkan pemerintah. Terkait imbauan pemerintah tentang bekerja dari rumah atau work form home (WFH), pada karyawan nonproduksi sebagian belum dapat melaksanakannya karena keterbatasan fasilitas, seperti tidak tersedianya laptop di rumah.

Sementara, dari sisi produksi, protokol kesehatan pun turut mendapat tantangan tersendiri. Pasalnya, perusahaan dihadapi dengan langkanya ketersediaan masker dan penyanitasi tangan, serta mahalnya termometer infra merah dan peralatan semprot disinfektan yang dibutuhkan untuk menjalankan protokol kesehatan saat melakukan kegiatan produksi.

“Beberapa IKM Komponen otomotif yang tergabung dalam Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (PIKKO) Indonesia telah memiliki jaringan pemasok dari luar negeri, seperti PT Eran Tekniktama yang memiliki jaringan pemasok mesin pembuat masker dari China,” ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Minggu (05/04/2020).

IKM tersebut berharap dapat mengantongi izin impor mesin dari China untuk proses produksi membuat masker. Kemudian, hasilnya akan didonasikan untuk masyarakat.

Gati menambahkan, untuk penundaan pembayaran kredit/pinjaman dan subsidi gaji karyawan tengah diusulkan oleh Kemenperin.

Related

award
SPSAwArDS