OJK Harapkan 57 Perusahaan Siap IPO Sepanjang 2022

profile photo reporter Medikantyo Adhikresna
MedikantyoAdhikresna
14 Juni 2022
marketeers article
Presiden RI Joko Widodo saat membuka pasar saham pada Januari 2022 lalu (FOTO: Sekretariat Kabinet RI)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap ada sekitar 57 perusahaan siap menyelesaikan proses penawaran saham terbuka (initial public offering/IPO) sepanjang tahun 2022 ini. Dari angka tersebut sebanyak 21 perusahaan sudah menyelesaikan penawaran umum terbukanya kepada publik hingga Juni 2022. Sementara itu, masih ada sekitar 36 perusahaan yang disebut berada dalam antrean (pipeline) atau sedang mengajukan proses.

Apabila tercapai sepenuhnya, maka besaran perusahaan yang melantai di pasar modal dapat melampaui catatan tahun 2021. Sebagai informasi, sepanjang tahun lalu terhitung 53 entitas usaha menawarkan saham ke publik dengan nilai total Rp 61,66 triliun. Jumlah tersebut menambah total perusahaan tercatat di lantai bursa mencapai 766 hingga akhir tahun 2021.

“Untuk di pipeline memang cukup banyak ada 57 perusahaan dan saya berharap semuanya bisa efektif pada tahun ini. Namun, apakah seluruhnya akan bisa efektif juga tidak bisa kami pastikan karena ada pengaruh dari faktor eksternal maupun internal sebuah perusahaan itu sendiri,” ujar Djustini Septiana, Deputi Pengawasan Pasar Modal I OJK, dalam sesi konferensi terbuka bersama awak media pada Selasa (14/6/2022).

Djustini memprediksi tren IPO dari perusahaan baru akan terlihat ramai, ketika mendekati pengujung tahun 2022 mendatang. Perkiraan tersebut berkaitan dengan kebijakan penyampaian laporan keuangan, yang umumnya disampaikan perusahaan mendekati akhir tahun. Begitu juga dengan kondisi pasar secara umum di saat yang sama.

Contoh langkah IPO perusahaan yang mengundang cukup banyak peminat pada tahun 2022 di mata OJK adalah penawaran dari GoTo Gojek Tokopedia. Emiten dengan kode saham GOTO tersebut menghimpun dana senilai Rp 13,7 trilun ketika resmi tercatat di bursa pada April 2022 lalu. Perusahaan tersebut menawarkan harga saham awalnya senilai Rp 338 per lembar.

Pasar modal di Indonesia sendiri terbilang menjadi contoh dan mampu menjadi penggerak perekonomian selama pandemi. Djustini menekankan salah satu pendorong pertumbuhan emiten di pasar modal akibat permintaan yang banyak masuk selama dua tahun terakhir. Hal itu mendorong kehadiran produk baru di pasar saham.

Sampai awal Juni 2022, jumlah investor pasar modal Tanah Air tercatat terus bertumbuh hingga menjadi 8,8 juta orang. Menariknya dari angka tersebut, sebanyak 59,91 persen berasal dari kalangan usia muda di bawah 30 tahun. Namun, catatan total aset yang mereka miliki masih berada di kisaran Rp 53,77 triliun.

Total aset itu jauh lebih kecil dari penanaman modal dengan rentang usia di atas 60 tahun yang mencapai Rp 553,09 triliun walau secara individu hanya berjumlah 2,75 persen dari total investor Tanah Air. Data hingga Juni 2022 yang dirilis oleh OJK juga menyebut jumlah investor di Indonesia sendiri sudah bertumbuh 18,66% dibandingkan catatan pada pengujung tahun 2021 lalu.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related