Pasar Nantikan Data Inflasi AS, Aset Kripto Sepekan Bakal Suram?

profile photo reporter Ranto Rajagukguk
RantoRajagukguk
13 Juli 2022
marketeers article
Dorong Inklusi Keuangan, Aspakrindo Dukung BI Luncurkan Rupiah Digital. (FOTO: 123rf)
Awan mendung tampaknya masih akan menyelimuti market aset kripto sepanjang pekan ini. Salah satu faktor besarnya adalah perilisan data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk bulan Juni yang diumumkan pada Rabu (13/7/2022) waktu setempat.
Sejauh ini, banyak analis yang memprediksi AS telah mencatat inflasi tahunan sekitar 8,7%-8,8% pada bulan Juni. Jika nantinya data inflasi AS pada Juni sesuai dengan prediksi tersebut, maka investor harus siap-siap melihat nilai dolar AS yang semakin meroket dan kripto terpuruk. 
“Data inflasi yang terus meninggi tentu akan direspons keras oleh The Fed dengan pengetatan suku bunga acuan. Peningkatannya bisa sangat agresif. Khawatirnya akan memukul market kripto dengan keras. Hal tersebut tentu akan membuat investor kabur dan memilih mengamankan asetnya ke aset safe haven seperti Dolar AS dan obligasi,” kata Afid Sugiono, Trader Tokocrypto, Rabu (13/7/2022).
Di sisi lain, dua bank sentral di Asia Pasifik menaikkan suku bunga 50 bps pada Rabu (13/7/2022) ini. Bank Sentral Korea (BoK) menaikkan suku bunga 50 bps ke 2,25%. Sementara itu Bank Sentral Selandia Baru (RBNZ) juga menaikkan suku bunga 50 bps ke 2,5%.
Selanjutnya, dari analisis pergerakan Bitcoin (BTC) secara garis besar masih berada pada area konsolidasi dengan area harga US$ 23.268-US$ 17.557. Data ini belum mempertimbangkan imbas dari perilisan data inflasi AS bulan Juni nantinya.
Harga Bitcoin terkonfirmasi kembali bergerak di bawah EMA20, yaitu berada di harga US$ 19.515. Apabila pada titik tersebut tidak dapat menahan laju penurunan harga Bitcoin, maka kemungkinan harga Bitcoin akan terkoreksi dan menyentuh support di kisaran harga US$ 18.605-US$ 17.305.
Dia melihat banyak investor aset kripto yang kurang bersemangat untuk melakukan aksi beli. Secara umum, mereka tampaknya masih menghindari pasar aset kripto menyusul redupnya selera risiko investasi di aset berisiko. 
“Sejak awal pekan lalu, banyak investor yang memilih jaga jarak dari market untuk mengantisipasi data inflasi AS pada Juni yang akan dirilis pada hari ini. Kemudian, penguatan nilai Dolar AS tampaknya juga masih menekan kinerja market kripto keseluruhan untuk beberapa hari mendatang,” ujar Afid.
Afid menerangkan kenaikan nilai dolar AS tentu akan membuat investor merasa lebih untung untuk menyimpan uang tunai ketimbang mengoleksi aset kripto. Hasilnya, investor akan semakin sering melakukan aksi jual. Di samping itu, investor sepertinya bakal terus melirik ke dolar AS setelah melihat paritas antara mata uang euro dan dolar AS kini sudah mencapai 1:1.
“Kenaikan permintaan dolar AS yang kencang tentu akan menghantam harga aset kripto. Apalagi, beberapa analisis menunjukkan bahwa laju Dolar AS kini punya korelasi negatif yang sangat kuat dengan laju harga aset kripto,” ucapnya.

Related