Peluang Kerja Sama Indonesia dan Uzbekistan di Sektor Industri Pupuk

profile photo reporter Annisa Bella Syana.S.
AnnisaBella Syana.S.
24 Mei 2021
marketeers article
Indonesia dan Uzbekistan berupaya untuk terus menguatkan kerja sama ekonomi yang komprehensif, terutama di sektor industri. Kedua negara memiliki potensi untuk memperdalam struktur manufaktur melalui peningkatan investasi.
“Kami mendorong terjadinya kolaborasi antara pelaku industri Indonesia dan Uzbekistan, antara lain di sektor industri pupuk. Upaya ini diharapkan dapat mendongkrak daya saing,” kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Muhammad Khayam di Jakarta, Senin (24/5/2021).
Menurut Khayam, ada peluang kerja sama ekonomi yang baik antara Indonesia dengan Uzbekistan yang bisa memacu neraca perdagangan kedua negara.
Uzbekistan menjadi salah satu negara mitra penting bagi Indonesia. Lokasi Uzbekistan di Asia Tengah dinilai strategis dengan berada di jalur sutra perdagangan. Selain itu, Uzbekistan sedang mengalami perkembangan ekonomi yang cukup pesat.
Khayam menyampaikan, delegasi Indonesia melihat peluang Uzbekistan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bagi industri pupuk di tanah air. Salah satu material utama yang selama ini dibutuhkan Indonesia untuk memproduksi pupuk, yakni kalium klorida (KCl).
Selain sebagai bahan baku pupuk, penggunaan KCl juga untuk bahan penolong di industri makanan, minuman, dan medis. Indonesia bukan merupakan negara produsen KCl. Selama ini, kebutuhannya dipasok dari Rusia, Kanada, dan Laos.
“Ke depan kita bisa ambil bahan tersebut dari Uzbekistan atau kita berupaya untuk menarik investasi mereka ke Indonesia,” ungkap Khayam. Uzbekistan memiliki pabrik NPK Samarkand, dengan kapasitas 250 ribu ton per tahun. Seluruh bahan baku NPK berasal dari lokal dengan harga gas di Uzbekistan sekitar US$ 2,2 per MMBTU.
“Di samping itu, ada Uz-Potash (industri KCl) dengan kapasitas sebesar 600 ribu ton,” ujar Khayam. Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, produk KCl Uzbekistan berwarna merah muda dengan ukuran lebih besar. KCl asal Uzbekistan telah diketahui oleh industri pupuk di Indonesia, seperti PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Sentana Adidaya Pratama.
Selain potensi kerja sama di industri pupuk, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel yang menjadi Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang) mengatakan, ada peluang di sektor industri agro.
Uzbekistan membutuhkan buah-buah tropis, seperti pisang, buah naga, alpukat, dan kopi untuk konsumsi warganya maupun untuk mendukung industrinya.
“Oleh karena itu, saya mau mendorong agar ada sister city antara kota di Uzbekistan dengan daerah-daerah di Indonesia penghasil buah-buah tropis ini,” tutur Rachmat Gobel.
Ia mencontohkan, kabupaten Lumajang yang merupakan daerah penghasil pisang di Jawa Timur bisa dicarikan daerah di Uzbekistan untuk dijadikan sister city. “Daerah dan kota-kota lain penghasil buah naga dan kopi, bisa juga melakukan hal yang sama,” ujar Rachmat.

Related