Opinion

Pemerintah Ajak Masyarakat Kolaboratif Jaga Keseimbangan Ekonomi dan Kesehatan

Dampak disruptif pada seluruh aspek dalam kehidupan masyarakat, termasuk aspek ekonomi akibat pandemic COVID-19 dapat dijadikan momentum untuk akselerasi dan transformasi ekonomi bagi Indonesia. Hal ini menjadi pembahasan utama dalam Indonesia Economic Outlook ‘21 yang mengangkat subtema Moneter dan Finansial (Integrating Digital and Financial Ecosystem to Maintain Monetary and Financial Stability); Fiskal (Fiscal Reform to Strengthen National Economic Resilience); dan Riil (Enlarging Investment to Boost Real Sector Productivity).

Dalam rangka menjaga keseimbangan antara penanganan COVID-19 dan pemulihan ekonomi nasional, pemerintah menggerakan sejumlah program berupa anggaran stimulus di beberapa sektor mulai dari kesehatan, keuanganm hingga mitigasi risiko. UU Cipta Kerja salah satu upaya pemerintah dalam menciptakan sektor padat karya yang bertujuan menampung 13 juta orang yang butuh pekerjaan.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) Kementerian Keuangan Republik Indonesia Hidayat Amir mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi tahunan pada periode 2020 sendiri mencapai -1,7% sampai dengan -0,6%. Pemulihan ekonomi sudah terjadi sejak triwulan III 2020, yaitu tumbuh -3,4% setelah sebelumnya mengalami penurunan pada triwulan I dan II.

“Pertumbuhan ini menunjukkan pembalikan arah aktivitas ekonomi menuju zona positif. Rock bottom sudah terlewati dengan tendensi adanya recovery,” papar Hidayat dalam diskusi virtual pada Sabtu (21/11).

Jika pandemi COVID-19 diproyeksikan terjadi pada jangka waktu yang panjang maka pemerintah dan masyarakat harus menemukan titik kompromi antara aktivitas ekonomi dengan protokol kesehatan sehingga tidak terjadi kenaikan kasus COVID-19.

Saat ini pemerintah tengah berupaya menjaga keseimbangan antara penanganan pandemi dan pemulihan ekonomi nasional. Hal ini disampaikan oleh Airlangga Hartanto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia yang juga hadir sebagai narasumber. Menurutnya, pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan dari semua lapisan masyarakat.

“Kita (pemerintah) berharap seluruh stakeholders akan bekerja sama, bergotong royong agar stabilitas ini tetap terjaga, baik dari segi kesehatan maupun dari segi sosial ekonomi,” ujar Airlangga.

Narasi pemulihan ekonomi perlu disampaikan bersamaan dengan narasi reformasi karena dalam melihat perubahan ekonomi, tidak mungkin melihat pertumbuhan di tahun 2021 tanpa melihat tahun 2020 dan tujuan jangka menengah-panjang. Selain itu, adanya COVID-19 diharapkan tidak mendistraksi tujuan tersebut, tetapi dimanfaatkan untuk memperkuat keinginan melakukan akselerasi dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

MARKETEERS X








To Top