Uncategorized

Pendapatan Bisnis SCG Turun 6% di Kuartal I-2020

Photo Credits: SCG

Grup konglomerasi asal Thailand, SCG mengumumkan hasil operasional per kuartal I-2020. Pendapatan bisnis bahan kimia SCG turun turun 6% (Rp 47,8 triliun) year-on-year (y-o-y). Sementara, lini bisnis semen dan bahan bangunan, serta kemasan mengalami peningkatan pendapatan.

Presiden dan CEO SCG Roongrote Rangsiyopash menjelaskan, penurunan pendapatan tersebut terjadi akibat penurunan harga bahan kimia karena permintaan global yang melemah.

“Namun, angka pendapatan tidak jauh berbeda dengan kuartal sebelumnya. Terjadi peningkatan pendapatan dari bisnis semen dan bahan bangunan serta kemasan yang mengimbangi penurunan pada bisnis bahan kimia. Sementara itu, laba untuk periode ini mencapai Rp 3,2 triliun dengan penurunan 40% y-o-y dan 2% quarter-on-quarter (q-o-q),” terang Roongrote Rangsiyopash dalam keterangan pers kepada Marketeers, Senin (04/05/2020).

Mengacu pada performa bisnis SCG di luar Thailand, SCG mencatatkan pendapatan sebesar Rp 20,2 triliun atau 42% dari total pendapatan dari penjualan. Jumlah ini meningkat 3% y-o-y. Per 31 Maret 2020, total aset SCG mencapai Rp 352 triliun, sedangkan total aset SCG di ASEAN (tidak termasuk Thailand) berjumlah Rp 121,2 triliun, yaitu 34 % dari total aset konsolidasi SCG.

Sementara di Indonesia, total aset SCG per kuartal I-2020 mencapai Rp 36,5 triliun, atau meningkat 64% y-o-y yang sebagian besar diperoleh dari bisnis kemasan. Sedangkan, pendapatan dari penjualan di Indonesia pada periode ini tercatat sebesar Rp 4,2 triliun. Jumlah ini meningkat 35% y-o-y yang diperoleh dari bisnis kemasan.

Dalam menghadapi situasi pandemi COVID-19, SCG memanfaatkan teknologi digital untuk membantu lebih dari 90% karyawan untuk bekerja dari rumah dan merampingkan manajemen rantai pasokan end-to-end. Hal ini dilakukan untuk memastikan pengiriman produk, layanan, dan solusi kepada pelanggan dengan cara yang nyaman dan aman.

Perusahaan juga mencari peluang baru untuk melayani kebutuhan yang kian berkembang, seperti mengubah penjualan menjadi penjualan online atau mengkatalisasi penggunaan Blockchain untuk pengadaan, penagihan, dan pembayaran dengan mitra.

“Hal ini terus dilakukan untuk mempertahankan posisi keuangan yang kuat dan tetap terbiasa dengan tantangan jika situasi menjadi berkepanjangan,” tutup Roongrote Rangsiyopash.

MARKETEERS X








To Top