Industry

Pentingnya Kepemimpinan di Masa Sulit

PHOTO CREDIT: 123RF

Pandemi COVID-19 telah menyebabkan disrupsi bagi seluruh industri. Setiap perusahaan dipaksa melakukan transformasi besar-besaran secara mendadak. Namun, yang menjadi masalah adalah di saat krisis seperti ini para pemasar terlalu berfokus pada fungsi manajerial dan melupakan peran kepemimpinan.

“Peran kepemimpinan di saat seperti ini sangat dibutuhkan untuk menggerakkan para karyawan dan memotivasi mereka di tengah perubahan,” ujar Ardhi Ridwansyah, Vice Secretary General of ICSB Indonesia dalam acara Jakarta CMO Club, Rabu (22/04/2020).

Mengutip pernyataan John Kotter, profesor bidang kepemimpinan di Harvard Business School, Ardhi mengatakan, dalam sebuah transformasi peran manajemen hanya 10-30% dan sisanya sekitar 70-90% sangat tergantung dengan peran kepemimpinan. 

Terdapat empat aspek kepemimpinan yang harus diperhatikan selama masa krisis, yaitu physicality, intellectuality, emotionality, dan spirituality.

Physicality: moving dan resting

Dalam masa krisis, sangat penting bagi seorang pemimpin untuk menjaga vitalitasnya. Karena ketika kesehatan terganggu, peran sebagai pemimpin juga tidak akan optimal. Dalam aspek fisik, terdapat dua hal bertentangan yang harus diseimbangkan, yaitu bergerak atau olahraga dengan istirahat.

Penting sekali untuk menjaga kesehatan tubuh selama pandemi dengan cara bergerak atau olahraga serta yang cukup agar pemimpin dapat mengambil keputusan secara cepat dan efektif

Intellectuality: learning dan sharing

Saat ini, seorang pemimpin perlu mengkombinasikan dua hal antara learning dengan sharing. Dengan terjadinya perubahan yang mendadak, para pemimpin dipaksa untuk belajar kemampuan baru, baik teknik maupun soft skill. 

Masa sulit seperti sekarang menjadi momentum yang tepat bagi seorang pemimpin untuk berbagi kepada karyawannya mengenai pengalaman dan kebijaksanaan untuk menghadapi krisis secara bersama-sama.

Emotionality: watchful dan hopeful

Pemimpin perlu menyeimbangkan dua jenis emosi yang terlihat berlawanan tetapi bisa diharmoniskan, yaitu sikap waspada atau sense of crisis dengan harapan. Sikap waspada perlu ditanamkan dalam batin para karyawan agar mereka menyadari besarnya krisis yang sedang dihadapi dan mampu bertahan.

Di sisi lain, pemimpin juga perlu memberikan harapan bahwa krisis akan berakhir dan kita akan kembali pada kondisi yang lebih baik. “Pemimpin tidak bisa terus menerus menularkan sikap waspada karena akan berdampak pada tingkat kecemasan dan stres karyawan. Harapan juga perlu dibangun,” kata Ardhi.

Spirituality: inner dan outer focus

Ini terkait upaya menyeimbangkan fokus internal dan eksternal. Fokus internal, yaitu memikirkan kembali visi dan misi seperti apa yang dapat menginspirasi karyawan. Sedangkan fokus eksternal mengacu pada upaya menemukan kesempatan untuk memberikan kontribusi lebih kepada karyawan maupun masyarakat.

Hermawan Kartajaya, Founder dan Chairman MarkPlus, Inc. juga menekankan pentingnya EQ (Emotional Quotient) dan PQ (Physical Quotient) bagi para pemimpin untuk dapat bertahan di tengah pandemi.

“Pemimpin perlu menguasai EQ maupun PQ. EQ mengacu pada upaya mengendalikan diri untuk tetap tenang dan menjaga hubungan dengan karyawan maupun orang lain. Sedangkan PQ mengacu pada pemimpin yang harus terus memastikan dirinya dan karyawan sehat selama masa krisis,” ujar Hermawan.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top