Opinion

Peran Influencer Pacu Perubahan Strategi Marketing

Pandemi membuat brand banyak melakukan inovasi, mulai dari produk hingga layanan. Upaya ini difokuskan pada perubahan perilaku yang terjadi di masyarakat. Brand harus pandai membaca apa yang dibutuhkan konsumen atau mereka yang berpotensi menjadi konsumen. Tidak hanya itu, hal yang tidak kalah penting adalah memastikan strategi pemasaran yang tepat untuk mendapatkan target yang sesuai.

Dengan segala keterbatasan regulasi demi pencegahan penyebaran COVID-19, brand harus putar otak agar pemasaran produknya tetap berjalan. Salah satu cara yang banyak dilakukan adalah menggandeng influencer. Influencer memungkinkan brand menangkap perubahan perilaku konsumen secara langsung. Konsep ini tak hanya membantu keberlangsungan bisnis dalam kondisi pandemi, namun juga berpotensi menciptakan pergeseran menuju perubahan yang diperlukan ke depannya.

Di Indonesia, influencer bukanlah hal baru di dunia pemasaran. Namun, bagaimana cara brand untuk bisa memengaruhi konsumen di tengah masa transisi saat ini?

CEO Tellscore Suvita Charanwong

Menurut CEO Tellscore Suvita Charanwong, di masa pandemi ini penting bagi brand dan influencer mempertimbangkan perubahan yang ada dan membantu konsumen beradaptasi. Karena, para influencer turut memengaruhi perkembangan strategi pemasaran.

Tellscore merupakan perusahaan agregator ribuan micro influencer yang bisa dimanfaatkan oleh brand untuk mempromosikan produk. Tellscore dilengkapi dengan teknologi artificial intelligence. Teknologi ini dapat memilih influencer berdasarkan lokasi, usia, gender, dan jangkauan followers.

Berikut ada sejumlah perubahan yang muncul karena pertumbuhan influencer marketing yang patut diperhatikan oleh brand.

Ide dan Format Pembuatan Konten

Dengan berkembangnya sejumlah platform yang menghadirkan video pendek, banyak influencer memanfaatkannya untuk lebih engage dengan followers. Mulai dari Instagram Story, live broadcasting, hingga video TikTok menjadi platform bagi influencer menuangkan kreativitas dan memanfaatkannya untuk menarik perhatian publik.

Namun di masa seperti ini, influencer harus peka memahami konten yang relevan dan bervariasi. Kemudian, mereka harus memastikan konten yang dibuat tidak bergeser jauh dari tujuan marketing brand. Namun, dengan tetap memikirkan situasi yang dihadapi saat ini.

Sundari Indah

“Saya merasa influencer termasuk saya sekarang lebih memikirkan pemilihan kata. Padahal, hal-hal yang mengandung semangat saat ini lebih mengundang konsumen untuk benar-benar melakukan pembelian,” ujar influencer fesyen Sundari Indah.

Kolaborasi Tanpa Batas

Bergeser dari metode tradisional dalam menjalankan bisnis tidak hanya akan membantu menghasilkan pemasukan namun juga menolong brand menjadi relevan dengan konsumen di era pasca COVID-19. Di tengah situasi sulit, brand memiliki peluang untuk menunjukkan kepeduliannya. Tidak hanya fokus pada penjualan, namun tetap memikirkan keresahan konsumen.

Hal ini juga dilakukan oleh influencer. Dengan banyaknya pengikut di media sosial, mereka dapat mendorong kampanye bernilai positif yang dilakukan brand maupun pihak lain. Misalnya, kerja sama untuk mengedukasi publik untuk tidak menyebarkan hoaks di tengah pandemi. Hal tersebut telah dilakukan TikTok, platform yang memiliki banyak influencer aktif ini berkolaborasi dengan World Health Organization (WHO) untuk kampanye anti penyebaran disinformasi terkait COVID-19.

Kampanye Kreatif Sarat Kepedulian

Untuk meningkatkan awareness dan engagement, brand bisamelakukan berbagai cara. Salah satunya menciptakan kampanye melalui platform digital. Dengan situasi COVID-19 yang sedang dihadapi di Indonesia, tidak sedikit brand yang melakukan hal tersebut. Terlebih lagi dengan jumlah penggunaaan gawai dan media sosial yang melonjak.

AIA Indonesia misalnya di masa pandemi melakukan kampanye “AIA Sehat untuk Bersama”. Kampanye ini melibatkan konsumen tanpa ada pendekatan khusus secara bisnis. Mereka menggandeng sejumlah influencer mikro untuk mengunggah tips kesehatan dengan gaya mereka masing-masing. Hal ini diyakini mampu menjangkau lebih banyak orang sekaligus dapat menyampaikan pesan kepedulian yang dimiliki AIA ke jangkauan yang lebih luas.

Di tingkat global ada contoh menarik dari Nike yang menyebarkan pesan kepada konsumennya untuk tetap di rumah, sambil terus menjaga rutinitas kebugaran. Sebagai brand yang terkenal akan etos determinasi diri dan tak terkalahkan, Nike menggunakan tagar #playinside dan #playfortheworld untuk menyampaikan pesan kepada konsumen bahwa diam di rumah merupakan hal paling kuat yang dapat dilakukan pada situasi seperti sekarang ini. Dengan mengunggah gambar diri pelanggan sedang berolahraga di rumah, konsumen telah memainkan peranannya untuk dunia dan bersama-sama melawan pandemi.

Bangkitnya Social Commerce & Influencer Commerce

Pertumbuhan dua model bisnis ini pada dasarnya berakar dari model bisnis C2C. Kategori ini menghubungkan orang untuk melakukan bisnis dengan orang lain. Karena COVID-19 menyebabkan halangan besar dalam menjalankan toko fisik. Ini semakin menumbuhkan peluang pertumbuhan social commerce baik di Asia maupun di seluruh dunia. Yang perlu brand lakukan adalah bergerak ke mana konsumen mereka berada.

Pilihannya bisa menggunakan display ads, search marketing, dan tentunya influencer commerce yang terdapat fitur call-to-action seperti tombol ‘beli’ yang akan mendorong konsumen untuk melakukan aktivitas pembelian.

Brand advocacy bisa menjadi poin yang dibawa influencer marketing. Memanfaatkan kedekatan antara para influencer dengan followers, brand bisa memasarkan produknya lewat konten-konten kreatif untuk mendorong konsumen mencoba produk atau layanan yang disarankan sang influencer.

MARKETEERS X








To Top