Peran Perusahaan Energi dalam Mendukung Keberlanjutan dan SDGs

marketeers article
Ilustrasi SDGs. (FOTO: 123rf)

Upaya berkesinambungan dalam membangun keberlanjutan pembangunan menjadi fokus utama bagi perusahaan, terutama di sektor minyak dan gas bumi serta industri energi lainnya. Dalam usaha mencapai keberlanjutan, perusahaan menghadapi tantangan yang kompleks, namun juga membuka peluang baru untuk sinergi harmonis antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial.

“Pentingnya menggandeng ketiga aspek tersebut menjadi landasan bagi perusahaan dalam melanjutkan upaya menuju keberlanjutan Pembangunan. Aspek ekonomi (profit) menjadi pertimbangan utama dalam pengelolaan sumber daya dan operasi bisnis. Namun, hal ini tidak bisa lepas dari tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan (planet) dan mendukung kesejahteraan masyarakat (people),” kata Sugeng Riyono, Ketua Umum National Centre for Sustainability Reporting (NCSR) Divisi Energi lewat online, Minggu (23/7/2023).

BACA JUGA: Dorong Keberlanjutan, Nojorono Kudus Perkuat Pengelolaan Limbah

Untuk mendukung upaya keberlanjutan, perusahaan juga aktif berkontribusi dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang telah ditetapkan oleh PBB. SDGs menjadi panduan dalam merumuskan program-program yang berdampak positif pada masyarakat dan lingkungan, sekaligus mencapai keberhasilan bisnis yang berkelanjutan.

Salah satu model yang menjadi dasar upaya keberlanjutan di sektor migas adalah hybrid techno-economic model untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya. Model ini mencakup aspek teknologi, ekonomi, dan masa pakai fasilitas (plant lifetime) yang terintegrasi. 

Dengan menggunakan model ini, perusahaan dapat mengkaji dan menerapkan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan untuk mendukung kegiatan bisnis di hulu dan hilir. Dalam menerapkan konsep keberlanjutan, perusahaan harus memahami dan mengimplementasikan terminologi dan klasifikasi standar yang ada dalam literatur, seperti “keberlanjutan” itu sendiri. 

Kriteria yang diperlukan untuk memenuhi aspek ini kemudian dibandingkan dengan kriteria ekonomi lainnya, seperti minimasi biaya (seperti cadangan akhir atau levelized cost of electricity/LCOE) dan maksimisasi keuntungan (net present value/NPV).

Perbandingan ini akan menunjukkan perbedaan yang bervariasi, tergantung pada jenis cadangan atau sumber daya yang dimaksud serta propertinya masing-masing. Dalam implementasi keberlanjutan dalam operasi migas, diperlukan pendekatan holistik yang mengintegrasikan berbagai aspek, mulai dari pemantauan dan mitigasi dampak lingkungan, efisiensi penggunaan energi, hingga program sosial yang berkelanjutan.

BACA JUGA: Sustainable Marketing Jadi Kunci Keberlanjutan Bisnis

Perusahaan harus tetap berfokus pada kelestarian lingkungan, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas. Selain itu, perusahaan juga harus menjalin kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, dan komunitas terdampak.

Kolaborasi ini akan memastikan upaya keberlanjutan yang dilakukan benar-benar berdampak positif dan berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat. Melalui upaya berkesinambungan dan sinergi harmonis antara aspek ekonomi, lingkungan, dan sosial, perusahaan di sektor migas, serta industri energi lainnya dapat berkontribusi secara aktif dalam mencapai keberlanjutan Pembangunan.

Dengan mengintegrasikan SDGs dalam operasi bisnisnya, perusahaan dapat menjadi agen perubahan yang berarti dalam membangun dunia yang lebih berkelanjutan dan sejahtera bagi semua.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related