Perang Rusia-Ukraina Diperkirakan Picu Krisis Energi

marketeers article
Oil pump rig. Oil and gas production. Oilfield site. Pump Jack are running. Drilling derricks for fossil fuels output and crude oil production. Global coronavirus COVID 19 crisis. War on oil prices.

Perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina diperkirakan bakal memicu krisis energi dunia. Pasalnya, Rusia menjadi salah satu negara pengekspor minyak dan gas (migas) serta mineral lainnya seperti batubara dan nikel.

Chief Executive Officer (CEO) Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengatakan, perselisihan tersebut akan berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, dia meminta pemerintah agar segera melakukan diversifikasi pemasok migas.

“Pemerintah dapat mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan diversifikasi pasokan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan gas dan batubara untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak bumi,” kata Johanna melalui keterangannya, dikutip Minggu (27/2/2022).

Menurut dia, hal yang perlu dikhawatirkan adanya kemungkinan terjadinya krisis energi dikarenakan Rusia merupakan salah satu produsen utama minyak dunia. Ini dapat berpengaruh terhadap pergerakan harga minyak global.

Apabila konflik ini berlanjut, tentunya kenaikan harga minyak ini akan berdampak kepada peningkatan inflasi di Indonesia. Dari sisi moneter, konflik ini juga akan menekan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed untuk meningkatkan suku bunga acuan.

Adapun, konflik geopolitik Rusia dengan Ukraina tentunya dikhawatirkan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi seluruh negara di dunia yang sedang berusaha untuk bangkit dari pandemi. Konflik juga dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran aktivitas ekspor dan impor antara Rusia dan negara Eropa lainnya, di mana Ukraina berperan penting sebagai jembatan kedua belah pihak.

“Di sini, Bank Indonesia perlu memperhatikan kondisi domestik sebelum menaikkan suku bunga acuan karena dikhawatirkan akan mengganggu pemulihan ekonomi nasional,” ujarnya.

Lebih lanjut, Johanna menjelaskan, konflik tersebut juga membuat para investor global pesimis berinvestasi di sejumlah negara berkembang lainnya. Hal ini dapat dilihat, dari indeks Dow Jones Industrial Average yang ditutup turun sekitar 1,8%.

Penurunan juga diikuti indeks S&P 500 yang juga anjlok 2,1% ke 4.380,3 dan Nasdaq Composite yang terkoreksi turun 2,9% ke 13.716,7 pada Kamis 17 Februari 2022. Selain itu, bursa Asia juga ikut terkoreksi tajam menyusul Wall Street.

Sementara itu, pada Jumat 18 Februari 2022, indeks Nikkei 225 terlihat anjlok 1,2% ke 26.903,6 yang diikuti oleh indeks Hang Seng yang turut melemah 0,6% ke level 23.633,7.  “Hal tersebut terjadi karena investor beralih ke aset safe haven seperti obligasi dan emas yang dinilai lebih aman, menyusul ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang semakin memanas,” pungkasnya.

Editor: Sigit Kurniawan

Related

award
SPSAwArDS