Perlambatan Cina, IMF Koreksi Target Ekonomi Asia pada 2022-2023

marketeers article
IMF. (FOTO: 123rf)

Dana Moneter Internasional (IMF) mengoreksi target perekonomian Asia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Masalah-masalah yang mendera kawasan ini, yaitu pengetatan moneter global, meningkatnya inflasi global dan perlambatan ekonomi Cina.

Sementara itu, kondisi inflasi di Asia terbilang rendah dibandingkan kawasan lain. Meski begitu, sebagian bank sentral terus menaikkan suku bunga acuan untuk memastikan ekspektasi inflasi terkendali.

BACA JUGA: IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global Tahun 2023 ke 2,7%

Rebound ekonomi Asia yang kuat awal tahun ini kehilangan momentum dengan kuartal kedua yang lebih lemah dari perkiraan,” kata Krishna Srinivasan, direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF.

“Pengetatan lebih lanjut dari kebijakan moneter akan diperlukan untuk memastikan bahwa inflasi kembali ke target dan ekspektasi inflasi tetap terjangkar dengan baik,” Srinivasan melanjutkan.

BACA JUGA: CEO JPMorgan Prediksi Resesi Akan Terjadi Pertengahan 2023

IMF memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Asia menjadi 4% tahun ini dan 4,3% untuk 2023. Lembaga itu menurunkan target masing-masing sebanyak 0,9% dan 0,8% dari proyeksi April 2022.

Sebagai perbandingan, ekonomi kawasan ini tumbuh signifikan pada 2021, yaitu mencapai 6,5%.

“Ketika efek pandemi berkurang, kawasan ini menghadapi tantangan baru dari pengetatan keuangan global dan perkirakan perlambatan permintaan eksternal,” ucap IMF.

Hambatan terbesar lainnya, yaitu perlambatan ekonomi Cina yang cepat dan luas akibat kebijakan lockdown COVID-19 yang ketat. Negeri Tirai Bambu itu juga tengah mengalami krisis properti yang berdampak besar terhadap ekonominya.

“Dengan makin banyaknya pengembang properti yang gagal membayar utang mereka selama setahun terakhir, akses sektor ini ke pembiayaan pasar menjadi kian menantang,” tutur IMF.

“Risiko terhadap sistem perbankan dari sektor real estate meningkat karena eksposur yang substansial.”

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Cina melambat menjadi 3,2% untuk tahun ini, merosot 1,2% dari proyeksi April. Pada tahun 2021, ekonomi terbesar kedua dunia itu memelesat 8,1%.

Untuk tahun depan dan 2024, IMF menargetkan ekonomi Cina tumbuh masing-masing 4,4% dan 4,5%. Oleh karena itu, lembaga tersebut menyarankan Cina secara bertahap mencabut pembatasan ketat COVID-19 pada tahun depan.

IMF tidak melihat resolusi cepat untuk krisis properti di Beijing. Krisis tersebut perlu ditangani secara komprehensif untuk mendukung pertumbuhan.

“Tapi kami tidak melihat penyelesaian cepat sektor properti (krisis) karena itu bisa memakan waktu lebih lama,” ujar Srinivasan.

Related

award
SPSAwArDS