Polusi Buat Kasus ISPA Meningkat, Kenali Gejalanya sebelum Terlambat

marketeers article
Ilustrasi terjangkit ISPA (Foto: 123rf)

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Imran Pambudi mencatat terdapat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Jabodetabek seiring memburuknya polusi udara. Imran mengungkapkan wilayah Jakarta Timur memiliki kasus ISPA non-pneumonia tertinggi, yaitu mencapai 3.115 kasus pada Selasa (5/9/2023). 

Sementara itu, Jakarta Barat menjadi daerah dengan kasus ISPA pneumonia tertinggi per Rabu (6/9/2023). ISPA sendiri merupakan infeksi yang menimbulkan peradangan di saluran pernapasan, terutama pernapasan bagian atas meliputi hidung, sinus, faring, dan laring. 

Gangguan ini dapat menimbulkan sejumlah gejala, mulai dari batuk, pilek, dan demam. Melansir Alodokter, gejala ISPA biasanya berlangsung antara satu sampai dua minggu. 

Pada sebagian besar kasus, pengidapnya akan merasakan gejala yang mereda setelah minggu pertama. Gejala ISPA sendiri bisa berbeda-beda, tergantung saluran pernapasan bagian mana yang terinfeksi.

Pada penderita ISPA yang terjadi di saluran pernapasan bawah, gejala yang dapat timbul adalah batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Penderita ISPA yang terjadi di saluran pernapasan atas akan mengalami gejala berupa batuk, bersin, hidung tersumbat, pilek, demam, mudah lelah, sakit kepala, nyeri menelan, mengi, hingga pembesaran kelenjar getah bening.

Pada sebagian besar kasus, ISPA yang disebabkan oleh virus dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, bila gejala-gejala tadi makin memburuk dan telah berlangsung selama lebih dari tiga minggu, segeralah periksakan ke dokter.

Selain itu, pengidap ISPA juga perlu berobat ke dokter bila mengalami demam di atas 39 derajat celcius, menggigil, sulit bernapas, batuk darah, muntah-muntah, atau bahkan kehilangan kesadaran. Jika ISPA yang terjadi di saluran pernapasan bawah tak segera diobati, penderita bisa mengalami komplikasi serius. 

Di antaranya, gagal jantung, penumpukan nanah di rongga selaput paru (empiema), abses pada paru-paru, hingga bronkitis kronis.

Cara Mencegah ISPA

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjangkit ISPA. Salah satunya ialah menggunakan masker saat berada di luar ruangan, mengingat kualitas udara belakangan ini sedang memburuk.

Masker dapat membantu mencegah paparan kuman patogen serta menyaring udara yang kotor sebelum terhirup. Selain itu, disarankan pula untuk tidak menggunakan peralatan makan bersama karena bisa menjadi salah satu sarana penularan yang ideal.

Cara lain yang bisa dilakukan untuk mencegah ISPA ialah mencuci tangan secara teratur, utamanya setelah beraktivitas di tempat umum. Hal ini karena tangan kerap menjadi perantara masuknya virus, bakteri, dan kuman patogen lainnya ke dalam tubuh.

Hal yang tak kalah penting adalah menjaga pola makan dan pola tidur. Terapkan pola makan sehat dengan gizi seimbang dengan mengombinasikan sayuran, daging, kacang-kacangan, buah-buahan, prebiotik, dan makanan yang mengandung vitamin C dan D lainnya.

Adapun untuk pola tidur, disarankan untuk beristirahat sekitar delapan jam pada malam hari. Pasalnya, kurang tidur bisa menurunkan sistem imun tubuh sehingga membuat anak rentan terserang berbagai penyakit, tidak terkecuali dengan ISPA.

Demikianlah penjelasan mengenai ISPA, mulai dari gejala hingga pencegahannya. Semoga bermanfaat!

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS