Technology

Potret Belanja Iklan Digital di Tengah Kondisi Pandemi

Photo Credits: 123rf

Nilai belanja iklan digital mengalami pertumbuhan signifikan di tengah kondisi pandemi. Fenomena ini terpotret dalam data internal ADA, perusahaan Artificial Intelligence (AI) dan pengolahan data terintegrasi di bidang pemasaran.

Pertumbuhan belanja iklan digital pada Januari-Juni 2020 mencapai 25%. Puncak aktivitas belanja iklan tertinggi terjadi pada Juni lalu.  

Menurut Country Director ADA Indonesia Faradi Bachri, secara umum bisnis bereaksi dengan cara menahan semua pengeluaran yang berkaitan dengan aktivitas pemasaran. Mereka memilih menyimpan atau mengalihkan dana untuk digunakan pada situasi darurat sehingga, aktivitas pemasaran diprediksi menurun pada masa pandemi.

Naiknya belanja iklan digital secara signifikan menunjukkan jika pemain bisnis mampu menanggapi kondisi ini dan beradaptasi dengan cepat. Mereka juga menyesuaikan pengelolaan pesan dan pendekatan kreatif agar relevan dengan situasi yang dihadapi konsumen, serta platform komunikasi yang digunakan yakni secara digital.

“Pada awal social distancing diberlakukan, aktivitas pemasaran cenderung lesu. Pemain bisnis mulai mengatur strategi dalam menghadapi dampak dari COVID-19. Namun, ada beberapa perusahaan yang justru mampu memanfaatkan situasi ini untuk tetap melakukan komunikasi pemasaran melalui platform digital,” ujar Faradi di Jakarta, Senin (20/07/2020).

Di tengah kondisi pandemi, bisnis harus lebih mementingkan konsumen. Bukan hanya memahami kebutuhan konsumen, melainkan juga menjawab hal-hal yang menjadi kekhawatiran mereka.

Jika proses pengolahan dan analisis data dilakukan dengan benar, maka bisnis atau perusahaan akan mendapatkan pengetahuan yang nantinya dapat diolah menjadi sebuah solusi yang tepat sasaran untuk konsumen.

Pentingnya pengolahan dan analisis data juga terbukti dari insights yang ditemukan ADA di masa pandemi. ADA mencatat, terjadi peningkatan penggunaan aplikasi traveling di Indonesia selama Maret 2020. Peningkatan tersebut mencapai 700% pada pertengahan bulan Maret. Hal ini menjadi indikasi jika keinginan untuk bepergian tidak surut karena pandemi.

“COVID-19 tidak lantas mematahkan keinginan masyarakat untuk bepergian. Namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, mereka pun menghabiskan waktunya untuk melihat aplikasi atau konten yang berkaitan dengan traveling. Tugas pemain bisnis adalah menangkap keinginan tersebut, kemudian membuat solusi bagi konsumen,” imbuh Faradi.

Keinginan konsumen pun dijawab oleh pelaku industri traveling dengan bentuk promosi seperti pay now, stay (or fly) later. Dengan promosi semacam ini, konsumen dapat merencanakan perjalanan dan membayar akomodasi sekarang, kemudian melakukan perjalanan jika situasi kembali normal.

Hal ini merupakan sebuah solusi tidak hanya bagi konsumen, tetapi juga untuk keberlangsungan bisnis perusahaan.

MARKETEERS X








To Top