Industry

Produsen Jamu Jaga Stabilitas Penjualan via Online dan Komunitas

SUMBER: 123RF

Dampak virus terhadap industri jamu meningkat cukup drastis. Produk yang mengklaim menjaga daya tahan tubuh kian diminati konsumen. Meski beberapa pemain juga mengalami penurunan omzet. Hal tersebut dikarenakan terbatasnya promosi yang bisa dilakukan secara offline dan kebijakan PSBB membuat distribusi bahan baku terganggu.

Masalah lain yang dihadapi pemain adalah penurunan daya beli masyarakat. Dengan perkiraan pandemi yang akan berlangsung lama, konsumen tampaknya masih khawatir membelanjakan uangnya untuk berbagai produk, tidak terkecuali jamu. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para pelaku usaha jamu agar tetap maju.

Melihat tren jamu saat ini, penjualan mulai berfokus pada daring dan komunitas. Memanfaatkan dua hal itu, sejumlah produsen jamu merasakan peningkatan omzet terlepas dari sulitnya pemasaran secara offline. Lewat penjualan online dan komunitas ini, produsen jamu tidak hanya bisa mempromosikan produknya saja tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang manfaat mengonsumsi jamu.

“Meski begitu masih ada produsen jamu yang mengalami kesulitan. Biasanya, mereka masih mengandalkan cara konvensional untuk memasarkan produknya,” ujar Ketua Umum GP Jamu Indonesia Dwi Ranny Pertiwi Zarman pada acara Industry Roundtable: Surviving Covid-19 Preparing The Post Pharmaceutical Industry Perspective.

Para pemain di industri jamu saat ini mulai melirik target baru yaitu milenial. Dengan tren gaya hidup sehat yang ada, milenial nyatanya menjadi generasi yang cukup concern menjaga kesehatan secara alami. Karena itu, jamu dianggap bisa menjadi opsi.

Potensi tersebut kemudian dimanfaatkan dengan melakukan sejumlah inovasi. Mulai dari bermunculannya kafe jamu modern hingga kemasan produk yang menarik. Untuk pemasaran, kembali lagi ke digital. Pasalnya, milenial banyak menghabiskan waktu dengan gawai pintar mereka untuk mendapatkan informasi hingga berkomunikasi.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top