Programmatic Advertising dan Efektivitasnya untuk Brand

marketeers article
Sumber: 123RF

Programmatic advertising adalah salah satu metode periklanan yang kini banyak dilakukan oleh berbagai brand. Selain karena menghemat waktu dan menambah efektivitas, campaign yang dilakukan brand tersebut bisa dioptimasi, karena bisa diukur dengan memanfaatkan teknologi. 

Lantas, bagaimanakah perkembangan dan efektivitas programmatic advertising di Indonesia, terutama pascapandemi COVID-19? Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya Marketeers mengetahui pengertian dari programmatic advertising. 

Dalam acara Trending Marketeers TV bertajuk “Tren Programmatic Advertising dan Efektivitasnya”, Florencia Eka, Country Manager The Trade Desk Indonesia menjelaskan pada dasarnya ini adalah media buying yang menggunakan platform. Sekarang, membeli iklan bisa dibeli lewat satu platform saja.

“Bermacam-macam kanal, bermacam device, mau itu mobile app ataupun website bisa semua melalui satu platform dengan programmatic ads. Selain itu, metode ini memiliki kemampuan untuk targeting dan reporting. Jadi, semua pembelian iklan bisa di track,” kata Florencia, Senin (12/09/2022).

Dengan menggunakan programmatic advertising, semua aktivitas bisa diukur. Mulai dari hard matrix seperti berapa banyak orang yang klik atau melihat, sampai ke aksi seperti apakah orang tersebut mendaftar ke website hingga membeli produk atau jasa. 

Soft matrix-nya pun bisa diukur, seperti apakah brand tersebut menjadi lebih diketahui hingga makin disukai atau tidak.

“Pada dasarnya, metode ini menggunakan sistem platform real time building. Jadi, secara real time brand tersebut bisa mencari impression yang diinginkan. Tentunya, didukung oleh artificial intelligence (AI). Dengan AI ini, bisa dibantu optimalisasinya, seperti memiliki inventory yang paling efektif. Jadi, bukan dari sisi pemilihan audiens saja, dari sisi hasilnya juga bisa dilihat dan diukur,” ucap Florencia.

Florencia menambahkan programmatic advertising di Indonesia hingga saat ini semakin berkembang. Hal itu dari sisi AI, targeting dan reporting hingga insight pun makin bisa diukur secara detail. 

“Yang lagi banyak dibicarakan itu mungkin programmatic digital out of home. Semacam billboard di luar, tapi bisa ditarget dan di-track. Sekarang, billboard sudah bisa berganti-ganti pesan, bisa ditentukan mau jam berapa tayangnya. Ini yang lagi berkembang sekarang,” kata Florencia.

Florencia kemudian menjelaskan berbagai tantangan dalam mengedukasi brand untuk memanfaatkan programmatic advertising. Pertama, sudah ada banyak brand yang memanfaatkan metode ini, namun masih dari global, sementara di perusahaan Indonesia masih cukup minim, sehingga harus diedukasi kembali.

Kedua, banyak brand yang belum tahu bagaimana cara mengolah data yang mereka miliki. 

“Dari sisi data itu harus kami edukasikan kembali. Sebab, sangat disayangi apabila mereka memiliki data yang sangat bermanfaat untuk kampanye selanjutnya, namun tidak bisa mengolahnya,” tutur Florencia.

Menurut Florencia, untuk membuat programmatic advertising menjadi berhasil, brand harus bisa mengombinasikan data yang mereka miliki. Tentunya, brand memiliki data terkait customer interaction. 

Dengan adanya data tersebut, iklan yang dibuat akan makin efektif.

“Dengan mengombinasikan dengan data yang sudah dimiliki, customer journey jadi bisa di-track. Hal ini tentunya akan berguna untuk kampanye selanjutnya yang akan dijalankan oleh suatu brand. Jadi, bisa lebih memastikan kesuksesan kampanye tersebut,” tutur Florencia.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS