Programmatic Advertising: Susun Strategi Iklan Sesuai Bujet

marketeers article
Programmatic Advertising: Menyesuaikan Bujet (FOTO: 123RF)

Menyusun periklanan yang efektif dibutuhkan pengetahuan tentang pasar yang ingin disasar. Pemilihan kanal periklanan sendiri haruslah tepat agar efektif, sekaligus minim bujet. 

Tak jarang, efisiensi bujet menjadi salah satu tolok ukur kesuksesan strategi periklanan. Alasannya, tak semua perusahaan memiliki bujet untuk membakar duit periklanan. 

Programmatic advertising kerap disebut sebagai salah satu jalan keluar bagi pengiklan untuk menyesuaikan bujet dengan kanal iklan yang dibutuhkan. Selain itu, metode periklanan tersebut memberikan data yang bisa dilacak kembali keefektifannya. 

Secara definisi, metode programmatic advertising adalah segala bentuk iklan yang dapat secara cerdas mengatur siapa yang akan melihat iklan dan sistemnya memilih untuk memberdayakan iklan ini ke siapa dan bisa mengatur secara real-time.

Metode ini memberikan keleluasaan pengiklan untuk memilih kanal yang memberikan dampak paling positif. Cara kerjanya secara sederhana, seperti ketika pengguna melakukan riset untuk membeli sebuah smartphone baik, dari smartphone ataupun komputer, maka iklan yang ada di dalam aplikasi yang digunakan pengguna akan muncul iklan mengenai smartphone

Metode ini juga memiliki fungsi retargeting, seperti ketika pengguna menonton video ulasan tentang sebuah smartphone, maka iklan akan memunculkan rekomendasi tentang smartphone.

BACA JUGA: Upaya IOH Penuhi Kebutuhan Periklanan Digital Melalui Platform 3Ads

Programmatic advertising mengandalkan algoritma dari pencarian yang dilakukan oleh pengguna. Algoritma ini membaca data pencarian yang dilakukan pengguna, dan data yang diperoleh berasal dari aplikasi yang digunakan oleh pengguna. 

Biasanya, setiap aplikasi akan melakukan konfirmasi apakah pengguna menyetujui atau tidak, data penggunaannya diberikan kepada pengiklan agar pengiklan lebih efektif dalam memberikan rekomendasi iklan yang berguna bagi pengguna.

Seiring penggunaan smartphone makin tinggi, dan kebiasaan orang-orang yang mulai serbadigital, perkembangan metode periklanan ini pun juga bertumbuh. Laporan Technavio yang berjudul Global Programmatic Advertising Spending Market 2022-2026 menunjukkan metode periklanan ini bertumbuh positif. 

Proyeksi ini digadang berlanjut hingga tahun 2026. Technavio menyebut metode periklanan ini mengalami pertumbuhan sebanyak 15,78% pada tahun 2022 secara global. 

Secara nilai pertumbuhan global sendiri, hingga tahun 2026, nilainya akan bertambah sebanyak US$ 314, 27 miliar. Dari tahun ke tahun, proyeksi pertumbuhan tahunannya (Compound Annual Growth Rate/CAGR) mencapai 26,66%. 

Sementara itu, penyumbang terbesarnya masih berasal dari region Amerika Utara dengan sumbangsih 34%.

BACA JUGA: Tren Periklanan Tahun 2022 di Indonesia, Merek Wajib Tahu

Popularitas dan efektivitas metode periklanan ini yang diakui secara global memberikan jalan panjang untuk metode tersebut tetap bertumbuh. Selain popularitas dan keefektifannya, metode ini memberikan opsi lain bagi pengiklan. 

Survei yang dilakukan oleh Google dan Forrester pada Agustus tahun 2021 menunjukkan ada beberapa opsi yang menjadi lanskap besar tentang bagaimana merek menggunakan metode programmatic advertising. Survei yang dilakukan pada 1.065 pejabat setara direktur ke atas bidang strategi periklanan global ini menyimpulkan ada beberapa pemanfaatan yang dilakukan merek melalui metode periklanan tersebut. 

Dalam daftar, tiga teratas, yakni testing and experimentations, brand suitability controls, dan audience development. Pengujian efektivitas dari iklan yang dilakukan masih menjadi tujuan utama penggunaan metode ini dengan persentase sebanyak 30%, sementara penyesuaian konten dengan identitas merek berada di persentase 29%, dan pengembangan audiens di persentase 28%.

Sementara itu, pemanfaatan lain yang juga dilakukan, yakni Ad personalization, Ad remarketing, Campaign Optimization, dan juga Inventory management. Pemanfaatan ini mendapat persentase yang sama, yakni 27%. 

Mulai dari personalisasi iklan, hingga bagaimana merek mengatur penyimpanan mereka agar lebih efektif, dengan mengantisipasi produk mana yang paling cepat laku, menjadi alasan merek menggunakan metode periklanan ini. Di Indonesia, metode ini sudah jamak digunakan merek. 

Pembacaan data menggunakan algoritma menjadi alasan mengapa programmatic advertising tepat membidik sasaran. Ini menjadi alasan mengapa PT Bank Central Asia (BCA) menggunakan metode ini.

Programmatic advertising menjadi salah satu kanal untuk memperluas jangkauan informasi yang kami coba sampaikan secara terukur. Hal ini bisa dioptimalisasi untuk meningkatkan engagement dengan nasabah kami,” kata Norisa Saifuddin, Senior Vice President of Marketing Communication BCA.

Baca selengkapnya di Majalah Marketeers Edisi Agustus 2023.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related