Proyeksi Pertumbuhan Industri Media OOH di Indonesia

marketeers article
Sumber: Alternative Media Group (AMG)

Industri Media Luar Griya/ Out of home (MLG/OOH) di Indonesia sedang mengalami perkembangan yang dinamis. Di sektor ini, trennya kembali menuju arah yang lebih positif.

Dengan kekuatan unik yang melibatkan unsur seni, kreativitas, teknologi, dan aspek sosial-ekonomi, media luar griya menjadi kekuatan yang sangat potensial dalam meningkatkan kesadaran merek.

Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti mobilitas masyarakat, tren industri, perilaku konsumen, adaptasi teknologi, data-driven insight, kreativitas, inovasi, serta regulasi pemerintah.

Menurut data dari Statista (Maret 2024), pasar media luar griya di Asia Tenggara diproyeksikan akan mencapai belanja iklan sekitar US$ 1,62 miliar pada tahun 2024.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pasar industri ini di Indonesia telah berkembang pesat, terutama dengan adopsi strategi digital yang inovatif yang telah mengubah lanskap industri ini. Pertumbuhan ini sejalan dengan pulihnya aktivitas masyarakat pascapandemi.

BACA JUGA: Hadirkan Solusi DOOH yang Lebih Dinamis, AMG Gandeng DMMX

“Pertumbuhan industri ini didorong oleh peningkatan teknologi digital, periklanan berbasis lokasi, dan integrasi dengan media sosial. Strategi omnichannel dengan inovasi teknologi menjadi kunci untuk mencapai hasil maksimal dalam kampanye media luar griya,” ungkap Davy Makimian, CEO Alternative Media Group (AMG), dalam keterangan resmi yang dikutip Marketeers pada Rabu (8/5).

Lantas, bagaimana cara mengukur efektivitas dari media luar griya? Agung Prihambodo, Marketing Director AMG, menekankan pentingnya standarisasi pengukuran kampanye MLG di Indonesia.

Standar ini perlu disepakati bersama oleh semua pemangku kepentingan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam melaporkan kinerja kampanye MLG.

Tidak hanya itu, teknologi juga memainkan peran penting dalam pengukuran efektivitas media luar griya, dengan tiga elemen utama: jangkauan, frekuensi, dan impresi.

Fabianus Bernadi, Ketua Umum Asosiasi Media Luar Ruangan Indonesia (AMLI), mengatakan bahwa asosiasi sedang memprakarsai standarisasi pengukuran kampanye MLG di Indonesia.

Menurutnya, konsensus di antara pemangku kepentingan media luar griya sangat diperlukan untuk menciptakan pengukuran yang objektif dan dapat dipahami oleh semua pihak terkait.

Di sini, industri media luar griya melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti penyelenggara, pemerintah, agen periklanan, pemasar, pemilik properti, dan masyarakat.

Kompleksitas dan keterkaitan dalam industri ini menawarkan peluang yang besar untuk pengembangan lebih lanjut. Keterlibatan berbagai pihak juga dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, dan memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi negara.

Insentif Pemerintah bagi Pelaku Industri

Sebagai industri periklanan yang dikenakan pajak reklame, dukungan dari pemerintah sangat penting untuk menjaga keberlangsungan industri ini.

Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah melalui kebijakan insentif dari pihak regulator. Asosiasi industri mendukung pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan melalui pajak reklame, asalkan dilakukan dengan adil dan mempertimbangkan keberlanjutan industri serta dampaknya terhadap lapangan kerja.

BACA JUGA: Optimalkan Solusi OOH Regional, EYE Indonesia Gandeng Broadsign

Eddy Supriadhi, Kepala Sub Bidang Pengendalian Pajak I pada Badan Pendapatan Daerah Provinsi DKI Jakarta menjelaskan bahwa meskipun tarif pajak industri reklame telah tetap sejak tahun 2013, nilai sewa reklame (NSR) mengalami kenaikan pada tahun 2022. Kenaikan NSR bervariasi tergantung pada jenis industri reklame dan faktor-faktor lainnya.

Melihat resistensi dari berbagai pihak terhadap kenaikan tarif pajak dan dampaknya pada pelaku usaha, Pemerintah Daerah DKI Jakarta mengeluarkan insentif melalui Peraturan Gubernur Nomor 12 tahun 2023.

Insentif ini memberikan bantuan yang besarnya mencapai 70% kepada pelaku usaha untuk mengurangi beban operasional mereka. “Kami menyadari bahwa dengan pengenaan tarif pajak dan resistensi yang terjadi, dari berbagai pihak, pemerintah akhirnya mengeluarkan insentif untuk mendukung kemudahan berusaha dan berinvestasi. Sehingga, tercipta  iklim investasi yang kondusif,” tutur Eddy.

Dengan adanya dukungan dan insentif dari pemerintah, diharapkan industri media luar griya dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang positif bagi perekonomian serta lapangan kerja di Indonesia.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related