Opinion

Ramadan, Bimbo, dan COVID-19

Sumber ilustrasi: 123rf.com

First mover advantage tidak selamanya berlaku di dunia marketing. Ada banyak contoh yang menjadi pemain pertama malah tidak dikenal. Yang justru dikenal malah pemain yang kesekian.

Itulah yang terjadi pada grup musik Bimbo, yang meski sudah tampil sejak tahun 60-an, tapi tetap awet dan masih lengkap anggotanya, sebagaimana grup musik dunia asal Swedia, ABBA. Pada tahun 1974, sebagaimana disampaikan oleh almarhum Denny Sakrie, salah satu wartawan musik terbaik Indonesia, Bimbo mengikuti Koes Plus, The Beatles-nya Indonesia, dan AKA Band, grup musik rock yang di masa itu menjadi saingan God Bless membuat lagu religi Islam atau kasidah.

Di mulai dengan lagu “Tuhan” yang sekalipun dibuat penulisnya setelah shalat Jumat di Masjid Salman ITB pada tahun 1974 tapi ada sejumlah rohaniawan dari agama lain yang menyanyikannya – dan lagu “Anak Bertanya Pada Bapakanya” – ciptaan bersama dengan sastawan angkatan 66 yang pernah bekerja di Unilever Indonesia Taufiq Ismail-, nama Bimbo kemudian terasosiasi kuat dengan lagu religi khususnya Ramadan sejak tahun 1984.

Itu adalah tahun saat Bimbo menelurkan album lagu Ramadan yang dalam tahun-tahun kemudian menjadi lagu “wajib” Ramadan yang diputar stasiun radio dan televisi di Indonesia. Bisa dibilang mirip dengan Christmas Carol yang banyak diputar di akhir Desember. Kata almarhum Denny Sakrie, resep sukses Bimbo tersebut karena membuat lagu religi yang berbeda, yaitu mengambil musik Flamenco yang berbeda dengan kebanyakan lagu religi yang mengambil musik gambus khas Timur Tengah, syair puitik dengan pesan yang gampang dimengerti dan karakter penyanyi yang kuat.

Mulai dari lagu “Selamat Datang Ramadan”, “Anak Bertanya Pada Bapaknya”, “Rasul Menyuruh Mencintai Anak Yatim”, “Sajadah Panjang”, lalu lagu yang diilhami kisah eorang mahasiswi ITB yang menjadi semacam kick-off untuk hijab lifestyle sejak pertengahan tahun 1980-an, yaitu “Aisyah Adinda Kita”, “Setiap Habis Ramadan”, hingga “Lebaran Sebentar Lagi”. Begitu terkenalnya lagu-lagu tersebut dan seolah-olah tidak tergantikan, membuat banyak penyanyi lain yang lebih muda dari Bimbo memilih menjadi cover version-nya, tapi dengan gaya musik yang berbeda. Di antara lagu yang dinyanyikan penyanyi lain, yang paling banyak versinya adalah Lebaran Sebentar Lagi yang di hari-hari terakhir Ramadan banyak diputar.

Salah satu penyanyi Bimbo, Sam Bimbo membuka rahasia dapur ketika diwawancarai oleh CNN Indonesia pada tahun 2016. Karakter mereka sebagai penyanyi yang merupakan kakak beradik dilatih oleh pendeta asal Ambon John Patirane. Sementara lagu puitik, antara lain karena kerjasama dengan Taufiq Ismail, yang bahkan termasuk lagu non religi, yaitu “Dengan Puisi Aku Bernyanyi” yang dibuat pada tahun 1972, setelah Bimbo diundang para sastrawan yang dikoordinir Ramadhan KH – ayah salah satu drummer God Bless Gilang Ramadhan- bertemu dengan para sastrawan di Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Yang menarik, sebetulnya selain membuat lagu religi, Bimbo juga punya banyak lagu-lagu jenis lain. Mulai dari lagu lingkungan, seperti “Melati Dari Jayagiri” dan “Flamboyan”, lagu humoris seperti “Kumis” dan “Singkatan”, lagu tentang profesi seperti, “Abang Beca”, “Balada Seorang Penyiar”, “Kisah Seorang Biduan”, dan “Serani Di Noda (kisah seorang biarawati)”, lagu yang dianggap menyerempet bahaya di masa Orde Baru seperti “Tante Sun”, dan lagu perdamaian dunia “Surat Kepada Tuan Reagan dan Tuan Brezhnev”, selain lagu percintaan anak muda seperti, “Dia, Aku dan Kampus”, “Adinda”, dan “Cinta”. Meski lagu-lagu tersebut popular, tapi tidak bisa mengikuti kesuksesan lagu-lagu religi yang sudah lebih 35 tahun menjadi lagu “wajib” Ramadan di Indonesia.

Bahkan lagu “Corona” yang bertahun-tahun tidak pernah selesei, tapi bisa tuntas bagitu COVID-19 mulai melanda dunia di tahun lalu, tetap tidak bisa mengimbangi lagu religinya. Apalagi salah satu lagu religinya justru punya resonansi tinggi dalam dua kali Ramadan di masa COVID-19, yaitu lagu “Setiap Habis Ramadan”. Di hari-hari yang ditandai dengan harap-harap cemas selama masa COVID-19 karena terima kabar gugurnya teman atau keluarga karena COVID-19, harapan untuk bertemu Ramadan tahun mendatang seperti yang ada di lagu “Setiap Habis Ramadan” justru semakin kuat. Itu bukan karena vaksin yang masih terbatas jumlahnya dan belum bisa menjadi jaminan bebas COVID-19, tapi lebih pada previlese yang diberikan bulan Ramadan.

Wukuf atau berdiam diri di Padang Arafah yang merupakan bagian penting prosesi ibadah bisa jadi moment terbaik untuk mohon ampunan. Masalahnya tidak setiap kaum Muslim bisa pergi haji, karena ada kuota sesuai dengan kapasitas tempat. Belum lagi “gangguan” atau “godaan” yang bisa mengganggu kekhusyukan pada saat berdoa di saat wukuf, antara lain karena banyaknya lembaga dan orang-orang kaya Saudi yang ingin berbagi makanan dan minuman pada saat wukuf.

Dengan adanya COVID-19 yang membuat ibadah haji semakin terbatas daya tampungnya, maka semakin susah peluang untuk bisa berhaji, termasuk wukuf. Mau tak mau, Ramadan yang menjanjikan salah satu malamnya lebih baik dari 1.000 bulan atau 83,3 tahun, atau Laylatul Qadar, menjadi harapan terbaik. Masalahnya kalau wukuf itu sudah pasti waktunya dari segi tanggal dan jam, laylatul qadar bisa datang di waktu yang tidak diketahui dalam satu bulan Ramadan.

Meskipun demikian, kalau tidak bisa bertemu Laylatul Qadar pada tahun ini masih bisa bertemu di tahun-tahun berikutnya. Sementara haji, termasuk wukuf, tidak sembarang orang akan bisa melakukannya lagi di tahun-tahun berikutnya, karena terbatasnya jatah untuk pergi haji. Masalahnya, yang di masa lalu seolah-olah taken for granted alias sudah seharusnya gampang untuk bertemu Ramadan tahun berikutnya bisa menjadi tidak pasti karena COVID-19.

Moga-moga dengan mendapatkan ampunan Tuhan dan diterimanya permohonan maaf dari sanak saudara, handai taulan, dan teman-teman akan mempermudah untuk bertemu Ramadan berikutnya.

MARKETEERS X








To Top