Business

Refleksi Masa Depan Sekolah Bisnis Setelah Pandemi

Ilustrasi: 123RF

Penerapan sekolah di rumah hampir tahun ini berdampak pula pada kualitas pendidikan di Indoensia. Pola pendidikan tatap muka dan pertemuan langsung telah dialihkan menjadi kelas online dengan memanfaatkan beragam teknologi. Media pembelajaran perlu dirancang secara efektif, kreatif dan inovatif agar dapat menarik minat belajar siswa di mana saja dan kapan saja.

Dampak lain yang mungkin terjadi adalah tingkat produktivitas siswa di masa depan. Selain itu, beberapa tren jangka pendek adalah adanya perubahan dan perluasan peran fakultas, serta bertambahnya jumlah dan jenis program pendidikan yang ditawarkan.

Salah satu tren jangka panjang yang diantisipasi AACSB International, suatu aliansi pendidikan bisnis, adalah adanya permintaan yang lebih besar untuk kualitas pendidikan yang lebih baik, yang mana banyak orang mengevaluasi kembali tujuan dan profesi mereka selama masa pandemi ini.

Munculnya jenis pelajar baru mengikuti format program pendidikan baru; seperti sertifikasi dan kredensial mikro yang akan menjadi lebih dapat diakses secara luas. Kemudian, bagian pembelajaran hybrid dan online dari semua sekolah bisnis akan terus berkembang karena manfaatnya yang lebih besar dalam menjangkau kelompok siswa yang luas dan beragam.

Indonesia, merupakan salah satu negara yang berpeluang besar untuk mengembangkan potensi pendidikan bisnisnya. Salah satu caranya adalah berkolaborasi dengan lembaga pendidikan tinggi bisnis tingkat regional dan global. Melalui kolaborasi ini, Indonesia akan memiliki konektivitas tinggi yang memungkinkan setiap negara dapat saling belajar satu sama lain, memahami tren, saling berbagi data, dan meningkatkan peluang pengembangan jangka panjang bagi fakultas dan pelajar mereka.

“Kami senang melihat banyak sekolah di Indonesia mulai terlibat dengan komunitas bisnis edukasi global yang lebih luas, yang fokus pada penelitian, di samping kelebihanyang mereka miliki dalam proses pengajaran dan kelengkapan program. Selain itu, kami sangat bersyukur karena semakin banyaknya sekolah di Indonesia yang tertarik untuk mempelajari tentang manfaat keanggotaan dan akreditasi AACSB. Kami optimistis pertumbuhan dan inovasi sekolah bisnis di Indonesia akan terus meningkat ke depannya,” ujar Geoff Perry, AACSB’s Head of Asia Pacific Office.

AACSB telah berkembang di kawasan Asia selama bertahun-tahun, termasuk telah membuka kantor operasinya di Singapura. Di Indonesia, AACSB berdedikasi untuk melalukan jangkauan secara personal dan membangun konektifitas dengan berbagai lembaga pendidikan tinggi terbaik di negeri ini.

Dalam mendukung kehadirannya di Indonesia, AACSB telah mengadakan beberapa acara publik untuk menjangkau stakeholders, seperti melakukan kunjungan sekolah, dan keterlibatan secara virtual untuk membangun hubungan lebih baik dengan banyak pihak terkait di Tanah Air.

Indonesia telah menghadapi berbagai tantangan di masa lalu, dan sekarang lebih banyak sekolah bisnis yang telah berkolaborasi erat dengan komunitas pendidikan bisnis global. Termasuk, dalam hal mengembangkan peluang pertukaran pelajar lintas batas.

Saat ini telah ada 21 sekolah bisnis di Indonesia yang menjadi bagian dari AACSB. Beberapa di antaranya telah terakreditasi, seperti BINUS Business School, Universitas Bina Nusantara, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.

Selama lebih dari satu abad, akreditasi AACSB telah mewakili standar kualitas tinggi dalam pendidikan bisnis di dunia. Sebagai jaringan pendidikan bisnis terlama dan terbesar, AACSB menghubungkan pelajar, pendidik, dan pelaku bisnis di seluruh dunia.

“Saat ini, sebanyak 910 institusi di 58 negara dan wilayah telah mendapatkan akreditasi AACSB untuk pendidikan bisnis. Selain itu, terdapat 189 institusi telah mempertahankan akreditasi AACSB tambahan untuk program akuntansi mereka,” pungkasnya.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top