Repositioning C&F, dari Toko Parfum Menjadi Toko Kecantikan

marketeers article

C&F dikenal sebagai ritel yang khusus menjual produk wewangian bermerek. Akan tetapi, selama dua tahun belakangan, ritel ini melakukan repositioning gerainya untuk mencapai visinya sebagai one stop shopping beauty store di Indonesia.

Reposisi ini didasari atas perubahan market yang mana volume penjualan kosmetik dan skin care di kota-kota besar mengalami pertumbuhan sebesar dua digit hingga 20%. Artinya, konsumen semakin royal dalam berbelanja keperluan kecantikan mereka. Peluang itulah yang hendak diambil C&F.

Karenanya, C&F pun mengubah tampilan beberapa gerai yang dianggap berada di lokasi premium, seperti Grand Indonesia dan Kota Kasablanka. Nama gerai pun berubah menjadi Coco by C&F. Ini dimaksudkan agar imej C&F sebagai ritel perfum perlahan berubah menjadi beauty store. 

“Parfum masih menjadi core business kami, atau menguasai sekitar 70%-80% volume penjualan,” papar Amandha Brahmana, Marketing Manager C&F Group, Jumat (10/8/2018).

Ia menambahkan, same-store sales growth atau rata-rata penjualan tiap gerai berada di level 15%. Dengan kehadiran produk kosmetik impor, diharapkan akan menggenjot penjualan. Saat ini, perusahaan memiliki seratus gerai di Indonesia.

(Baca: Lagi, Merek Kosmetik Korea Moonshot Ekspansi ke Indonesia)

Salah satu merek impor itu adalah Moonshot, kosmetik asal Korea yang akan dijual di sebelas gerai C&F hingga September 2018. Selain itu, perusahaan juga menjadi distributor resmi dari berbagai merek tata rias dan skin care internasional. Untuk merek kosmetik, terdapat Flormar asal Turki. Sedangkan untuk merek skin care, antara lain Patyka. Institut Karite Paris Blithe, dan Cremorlab.

“Pemilihan brand didasari atas seberapa besar merek ini dibicarakan dan dicari konsumen di dunia digital, serta berbagai review yang telah beredar luas. Kami juga melihat performa penjualan merek-merek itu di negara asalnya dan di negara Asia Tenggara lain,” tambah Amandha.

Dia melanjutkan, merek-merek baru yang dipilih memang masih merupakan produk kelas menengah atas. Ini menyesuaikan dengan rata-rata basket size ritel itu yang mencapai Rp 300.000 per sekali belanja.

“Tidak menutup kemungkinan, akan masuk merek-merek yang lebih terjangkau untuk gerai-gerai yang tidak berada di prime location,” tegasnya.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Related

award
SPSAwArDS