Riset Alibaba Ungkap Tingginya Minat Konsumen dalam Keterlibatan ESG

marketeers article
Ilustrasi ESG. (FOTO: 123RF)

Saat ini banyak perusahaan yang melakukan aksi yang berkaitan dengan environmental, social and governance (ESG). Rupanya, hal itu juga disambut oleh para konsumen yang menunjukkan kepedulianya terhadap lingkungan.

Hal itu diungkap dalam temuan terbaru penelitian independen yang dilakukan oleh Alibaba Group. Riset bertajuk “The Sustainability Trends Report 2023” telah mensurvei lebih dari 14.000 konsumen dari 14 negara di Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

Riset itu menyebut sebagian besar (73%) konsumen ingin menjalani gaya hidup yang lebih berkelanjutan (sustainable), terutama mereka yang tinggal di negara berkembang di Asia (87%). Meski, di satu sisi ketidaknyamanan dan biaya tinggi dianggap sebagai hambatan utama dalam penerapan gaya hidup berkelanjutan.

Ditemukan bahwa kenyamanan (53%) dan harga yang terjangkau (33%) sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku pada keberlanjutan konsumen dan bisnis dapat mempermudah konsumen untuk membuat pilihan sadar berkelanjutan.

Liu Wei, Head Strategy ESG Grup Alibaba mengatakan, sebagai perusahaan platform digital, Alibaba diposisikan secara unik. Perusahaan pun berkomitmen untuk mengatasi tantangan kesenjangan ‘say-do‘ dengan mengurangi kendala ketidaknyamanan, menambahkan pilihan yang lebih berkelanjutan, dan mengoptimalkan rantai pasokan untuk menjaga agar biaya tetap masuk akal bagi konsumen.

“Konsumsi berkelanjutan atau sustainable consumption sangat penting bagi lingkungan sekaligus memberikan peluang besar bagi bisnis, serta ekonomi digital secara keseluruhan,” kata Liu Wei dalam keterangan pers kepada Marketeers, Jumat (4/8/2023).

Menurutnya, konsumsi berkelanjutan ini juga memiliki perkembangan jangka panjang menuju masa depan yang berkelanjutan untuk semua.

BACA JUGA:  DBS Indonesia Hadirkan Reksa Dana BNP Paribas Indonesia ESG Equity

Ia juga mengungkap, platform buku besar karbon Alibaba telah melihat 187 juta konsumen berpartisipasi dalam kegiatan pengurangan emisi karbon dalam 12 bulan menjelang 31 Maret 2023 lewat 1,91 juta produk dari 409 merek.

Penelitian ini pun menemukan sekitar tiga dari empat konsumen (76%) terbuka untuk menerima lebih banyak informasi tentang bagaimana menjadi lebih berkelanjutan.

Proporsi tertinggi terdapat di Filipina (93%), Indonesia (91%), dan UEA (90%). Lebih dari setengah (58%) konsumen mengatakan bahwa mereka telah terlibat dengan praktik berkelanjutan dan mereka merasa telah melakukan banyak hal secara pribadi.

BACA JUGA:  Langkah BCA Dalam Menawarkan Investasi Syariah dan ESG

“Selain itu, ada juga yang secara umum, pihak yang terbuka terhadap pembelajaran tentang praktik online yang berkelanjutan, dengan rata- rata 73% mengatakan bahwa mereka akan menerima lebih banyak informasi tentang cara melakukan pembelian online yang lebih berkelanjutan,” ucapnya.

Penelitian itu mengungkap responden dari pasar negara berkembang Asia (88%) menunjukkan keinginan yang lebih tinggi untuk mempelajari cara melakukan pembelian online yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan pasar Asia maju (66%) dan Eropa (66%).

Di satu sisi, perilaku belanja online berkelanjutan juga berbeda di setiap wilayah, dengan pasar di negara berkembang di Asia (47%) lebih cenderung memilih kemasan ramah lingkungan sedangkan di Eropa (47%) cenderung lebih banyak mendaur ulang.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related

award
SPSAwArDS