Riset Dell Technologies: Perusahaan di Indonesia Kesulitan Mengolah Data

profile photo reporter Dyandramitha Alessandrina
DyandramithaAlessandrina
27 Agustus 2021
marketeers article
Digital transformation digitalization disruption innovation technology process automation internet concept. Pressing button on virtual screen.

Sebagian orang Indonesia mengakui bahwa data adalah aset terpenting. Namun demikian, sebagian dari mereka mengatakan bahwa data adalah penghalang terbesar perusahaan dalam mentransformasikan diri. Hal ini ditemui oleh perusahaan multinasional Dell Technologies yang mengumumkan hasil risetnya bekerja sama dengan Forrester Consulting. Hasil riset ini menemukan bahwa sebagian besar perusahaan di Indonesia tidak bisa mengikuti perkembangan data yang sangat cepat.

Richard Jeremiah, General Manager Dell Technologies Indonesia mengatakan bahwa ada tiga paradoks besar dari perusahaan Indonesia mengenai data. Pertama, sebanyak 69% responden Indonesia menyatakan bahwa perusahaan mereka mengutamakan data, akan tetapi hanya 22% dari mereka yang telah memanfaatkan data sebagai modal dan  memprioritaskan penggunaan data ke seluruh lini bisnis.

Untuk memberi gambaran yang lebih jelas mengenai paradoks tersebut, Forrester Consulting mengelompokkan pengukuran kesiapan data perusahaan sebagai berikut. Terdapat empat kelompok, yaitu Data Novice, Data Technician, Data Enthusiast, dan Data Champion. Hasilnya, sebanyak 88% perusahaan di Indonesia belum menunjukkan kemajuan, baik dari sisi teknologi dan pemrosesan data serta budaya dan kemampuan mereka mengelola data.

“Hanya 12% perusahaan di Indonesia yang masuk dalam kategori Data Champion, yaitu perusahaan perusahaan yang secara aktif terlibat di teknologi dan pemrosesan data. Mereka memiliki budaya atau kemampuan dalam mengelola data. Bahkan, riset ini menunjukkan bahwa 62% perusahaan di Indonesia masih jauh dari tujuan transformasi digital mereka,” ungkap Richard.

Kedua, riset menemukan bahwa 72% perusahaan di Indonesia mengumpulkan data lebih cepat ketimbang kemampuan mereka untuk mengolah dan menganalisis data tersebut. Menurut Richard, hal ini mungkin terjadi karena kepemimpinan data yang buruk, dan strategi TI yang belum berkembang.

“Ketika perusahaan di bawah tekanan besar untuk melakukan transformasi digital demi mempercepat layanan, mereka harus mendapatkan lebih banyak data dan harus bisa mengelola data yang mereka miliki dengan lebih baik. Menjadi sebuah perusahaan yang fokus pada data (data-driven) adalah sebuah perjalanan. Mereka butuh panduan dalam perjalanan tersebut,” ujar Richard.

Ketiga, dalam 18 bulan terakhir ini sektor on-demand berkembang dengan pesat. Hal tersebut memicu gelombang baru bisnis yang menerapkan data pertama dan data dari mana saja. Richard mengungkapkan bahwa sebanyak 68% perusahaan di Indonesia yakin model as-a-service dapat membuat perusahaan menjadi lebih tangkas. Namun demikian, di Indonesia hanya 12% yang telah mengalihkan aplikasi dan infrastruktur TI mereka ke model as-a-Service (aas).

Keempat, Richard menyampaikan bahwa ada tiga cara perusahaan untuk dapat menguba data dari beban menjadi keunggulan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan modernisasi infrastruktur TI, mengoptimalkan saluran data sehingga data dapat mengalir dengan bebas dan aman. Serta, mengembangkan software yang menghadirkan pengalaman personal data terintegrasi, seperti yang diinginkan oleh konsumen.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related