Digital

SaaS Bukan Lagi Kebutuhan Enterprise Saja

SUMBER: 123RF

Pasar global dari software as a service (SaaS) diperkirakan terus tumbuh. Pendorong utamanya saat ini adalah pembatasan aktivitas sosial akibat pandemi. Banyak perusahaan yang berupaya memulihkan bisnis mereka.

Tidak hanya fokus menargetkan perusahaan besar, para pelaku di industri SaaS juga menyasar para pemain di usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM). Terlebih lagi di situasi saat ini, UKM menjadi sektor penting yang harus dibantu. Banyak dari mereka yang mengalami kesulitan untuk mendigitalisasi sistem operasional karena minimnya informasi.

Tren SaaS muncul setelah berkembangnya teknologi cloud. Software disimpan di dalam cloud yang kemudian bisa diakses oleh konsumen lewat internet. Pemanfaatan cloud menjadi jawaban atau solusi dari permasalahan perusahaan yang membutuhkan sistem yang ringkas dan lebih mudah.

“Kebutuhan dari konsumen yang kian kompleks membuat mereka memerlukan lebih banyak software. Pada tujuh atau delapan tahun lalu, kami hanya memiliki dua opsi, yaitu buy or build. Jika membeli, perusahaan harus siap dengan harga tinggi. Pertama, karena harus mempersiapkan sistem yang tersentralisasi. Kedua, biaya software atau lisensinya cukup mahal,” ujar CEO Mekari Suwandi Soh.

Pertumbuhan bisnis SaaS di Indonesia sendiri sangat pesat bahkan bisa dibilang fenomena transformasi yang unik. Bisnis di Tanah Air yang dikenal sangat banyak memanfaatkan tenaga manusia atau dikerjakan dengan manual kini mulai beralih ke sistem otomatis. Pekerjaan operasional seputar accounting, payroll, proses penjualan, sampai entri data kini dipercayakan pada SaaS.

Bila dibandingkan membeli lisensi software, berlangganan ke penyedia layanan SaaS jauh lebih terjangkau. Terlebih lagi, kini banyak penyedia layanan SaaS yang menawarkan one stop solution. Jadi, konsumen bisa mendapatkan berbagai solusi untuk perusahaannya dari satu penyedia layanan saja.

Awareness terhadap SaaS terus tumbuh jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Berdasarkan survei dari Indonesian Cloud Forum dan MARS Indonesia pada tahun 2012, hanya 3% dari masyarakat Indonesia yang mengenal SaaS. Namun, hal tersebut justru dijadikan peluang para pendahulu di sektor SaaS untuk melakukan investasi besar demi membangun awareness dan mengedukasi pasar.

Sebab itu, masih ada banyak peluang startup untuk masuk dan menciptakan produk serta layanan yang dapat membantu mendigitalisasi UKM. “Dengan adanya tren cloud yang terjadi di Indonesia, banyak pelaku usaha terutama UKM memiliki concern tentang biaya ketika berhadapan dengan berlangganan software. Karena itu, dengan produk yang kami miliki, mereka bisa punya pilihan yang lebih hemat biaya,” ungkap Suwandi.

Meski saat ini banyak diminati para pelaku usaha dari berbagai skala, startup SaaS bukannya tidak menghadapi tantangan. Mereka harus mewaspadai perubahan kebutuhan konsumen. Mereka juga harus terus mengedukasi konsumen terkait layanan mereka.

“Mengedukasi konsumen UKM memang tidak mudah. Ada banyak keraguan dari mereka terutama ketika mengetahui latar belakang kami adalah perusahaan teknologi. Banyak yang mengira layanan ini mahal dan rumit bila diaplikasikan. Namun, respons UKM cukup baik karena mereka mau belajar,” tutur Head of Growth Advotics Venny Septiani.

Meski terbilang baru pasar SaaS di Indonesia terbentang luas. Pasalnya, mereka merasakan telah merasakan manfaat dari SaaS dalam operasional bisnis mereka. Semua berkat para pemain SaaS di awal yang memiliki komitmen kuat dalam memperkenalkan dan mengedukasi konsumen dengan solusi-solusi yang mereka tawarkan.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top