Consumer Goods

Saat Brand Kecantikan Usung Nilai Kemanusiaan

Sumber: SASC

Membangun sebuah merek bukanlah hal yang mudah. Perlu ada diferensiasi yang ditawarkan. Apalagi di industri kecantikan yang setiap harinya muncul inovasi baru yang semakin personalized untuk para penggunanya.

Strategi ini juga yang kemudian diusung oleh merek Socially Aware Sexy Cosmetic (SASC). Sejak resmi diluncurkan tiga tahun lalu, SASC menyasar pasar yang lebih personalized.

Bedanya, jika merek kecantikan lain mengarah pada produk-produk yang sesuai dengan keinginan konsumen, SASC bertindak lebih jauh dengan menyentuh sisi prinsip dari konsumennya. Yaitu, menjadi merek yang menawarkan pengalaman saling mendukung antar perempuan saat sedang melakukan ritual khas perempuan; merias dan merawat diri.

We believe that beauty is not only skin deep,” kata Priscilla Pangemanan, Founder SASC di acara Marketeers iClub How ‘Human’ is Your Brand?, Jumat (03/07/2020).

SASC mengusung prinsip bahwa setiap perempuan memiliki kekuatan dalam dirinya. Kekuatan ini semakin besar saat perempuan memiliki kepercayaan diri tinggi. Make-up dianggap sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan kepercayaan diri dan mendukung perempuan untuk terus maju dan membawa perubahan dalam dunianya.

“Untuk itulah kami membangun social enterprise yang mempromosikan kepercayaan diri, intelegensi, dan perempuan yang berani mengungkapkan pendapatnya lewat produk-produk kosmetik berkualitas,” lanjutnya.

Lantas bagaimana SASC menjalankan prinsip mereknya?

Mengusung slogan beauty with a cause, SASC mengampanyekan bahwa setiap pembelian produknya, konsumen sama dengan membantu perempuan lainnya untuk tumbuh. Priscilla mengungkapkan bahwa SASC bekerja sama dengan sejumlah yayasan yang mendukung women empowerment.

Pihaknya secara rutin memberikan donasi dari keuntungan penjulan produk untuk membantu perempuan-perempuan yang membutuhkan. Uniknya, SASC selalu mengampanyekan semua proses donasinya ini dengan tujuan memberikan pengalaman kepada konsumennya bahwa dengan menggunakan SASC, konsumen  juga turut andil dalam meningkatkan kualitas hidup sesama perempuan.

“Sebagai merek, SASC berusaha untuk menjalankan lima hal, yaitu think like human, value relationship, invest in other human, agile, dan care about humans. Artinya, kami tidak melihat konsumen sebagai cash register, tapi partner untuk berbuat baik. Sehingga tercipta personalisasi terhadap merek juga brand story,” katanya.

Terbukti dengan strategi ini, SASC telah tersebar di 22 kota di Indonesia yang konsisten membawa brand story yang sama, empowering women. Lebih lanjut, tahun ini SASC berencana mendirikan SASC Foundation yang bertujuan untuk melatih perempuan-perempuan untuk menjadi bagian dari industri kecantikan.

“Para perempuan bisa dilatih menjadi make-up artist atau tenaga pemasar. Saat mereka bisa mandiri, maka kehidupan masa depan mereka juga terjamin. Lewat semangat saling mendukung, SASC akan menjadi merek kecantikan di balik majunya perempuan Indonesia,” tutup Priscilla.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top