Consumer Goods

Sasar Milenial, Ini Strategi Sasa Sang Market Challenger

Sumber: PT Sasa Inti

PT Sasa Inti (Sasa) sebagai perusahaan bumbu dan makanan di Indonesia semakin aktif melakukan kolaborasi dengan beberapa brand lokal. Beberapa merek seperti Kopi Janji Jiwa, brand kosmetik Dear Me Beauty, dan The Goods Dept sebagai brand ritel produk fesyen menjadi rekan kolaborasi Sasa pada tahun 2019. Kolaborasi menjadi satu dari banyak taktik cerdas Sasa sebagai market challenger.

Pada pertengahan Juni 2021, Sasa juga menggandeng Chatime Indonesia untuk menciptakan menu baru yang sensasional nan unik, yaitu Flamin’ Hot Milk Tea dan Choco-Conut. Kolaborasi ini terwujud lantaran antarmerek ini memiliki konsumen yang sama, yakni generasi milenial.

“Generasi milenial sudah menjadi decision maker untuk pembelian. Total populasi serta potensi untuk bisnis di segmen ini pun sangat besar. Menurut data internal kami, konsumen yang mendominasi saat ini adalah konsumen usia 25-35 disusul 18-24 tahun.” ungkap Nanda Rahmanu, Head of Digital PT Sasa Inti.

Sebab itu, strategi komunikasi Sasa banyak diarahkan ke mereka. Tidak lagi menjadi future market, para milenial adalah konsumen yang membentuk pasar hari ini. Dan, Sasa harus bisa cepat beradaptasi untuk bisa menjaga eksistensi mereka di pasar ini.

Untuk mewujudkan hal tersebut, belum lama ini Sasa kembali menjalin kolaborasi. Kali ini, Sasa menggandeng restoran cepat saji yang identik dengan menu hamburger, yakni Flip Burger. Keduanya membuat kolaborasi yang menarik. Sasa dan Flip Burger melahirkan menu non-burger, yakni menu olahan ayam yang juga menjadi menu favorit di restoran ini, yaitu chicken skin dan chicken finger.

Kedua olahan ayam ini kemudian dipadukan dengan pedasnya Sasa Bontabur. Dari kolaborasi Sasa X Flip Burger ini, terciptalah tiga menu baru, yaitu Hot & Spicy Nabox (nasi boks kulit ayam), Hot & Spicy Chicken Skin, dan Hot & Spicy Chicken Finger. Ketiga menu baru ini dibanderol dengan harga mulai dari Rp 24 ribu.

Flip Burger sendiri merupakan restoran milik salah satu chef kenamaan Ibu Kota, Chef Afit. Restoran ini didirikan pada tahun 2016 di Senopati, Jakarta Selatan. Kini, Flip Burger telah memiliki 23 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.

Si penantang pasar

Sasa sadar produknya merupakan pendatang baru di Indonesia. Mereka menjadi penantang pasar produk serupa yang lebih dulu dikenal. Untuk memperkuat posisi mereka di pasar dengan cepat, Sasa mengandalkan kekuatan kolaborasi.

Dalam hal ini, strategi kolaborasi banyak dilakukan bersama brand lokal yang sedang digandrungi oleh milenial. “Objektif kami adalah untuk mendapatkan massive awareness. Bontabur hadir sebagai challenger brand. Untuk itu, kami cukup massive memperkenalkan produk ini ke khalayak,” kata Nanda.

Bukan hanya menciptakan kolaborasi unik dengan para brand lokal, Sasa juga memancing antusias pasar milenial dengan sistem time framing. Dengan cara ini, konsumen hanya dapat membeli produk kolaborasi ini dalam waktu terbatas. “Kami ingin create demand atau hype. Kampanye pun harus didesain agar bisa dijadikan talk of the town yang menimbulkan urgency to buy atau curiosity dari khalayak.” tambah Nanda.

Dengan pendekatan ini, Sasa mendapatkan adanya tren peningkatan dalam penjualan produk besutannya yang baru dirilis beberapa bulan lalu. Dari segi jumlah penjualan juga terus meningkat seiring penetrasi produk yang terus meluas. Hal ini seiring pula dengan meningkatnya demand pasar dan awareness produk.

Sasa memastikan, dalam beberapa waktu ke depan akan menggandeng dan menghadirkan kolaborasi menarik lainnya dengan brand lokal yang sedang digandrungi milenial. Selanjutnya, akan ada beberapa kolaborasi yang jauh lebih seru dengan kemasan komunikasi yang sangat menarik untuk anak muda.” tutup Nanda.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

MARKETEERS X








To Top