Automotive

Semua Butuh Keseimbangan, Jangan Lupakan Yin Yang

Dunia terus berubah, begitu pula perusahaan dan pemasar. Bukan lagi rahasia bahwa setiap kutub pasti memiliki lawan. Utara memiliki selatan, timur memiliki barat, online memiliki offline, dan lainnya. Meski terkesan berlawan keduanya saling melengkapi dan berkaitan satu sama lain.

“Kita harus menjaga keseimbangan sebaik mungkin di masa mendatang. Tidak hanya mengejar profit tapi juga dampaknya kepada lingkungan. Tidak hanya mengejar value, tapi juga memperhatikan values. Tidak hanya mengembangkan teknologi, tapi diiringi juga dengan dampaknya kepada manusia,” kata Hermawan Kartajaya, Founder & Chairman MarkPlus, Inc dalam 15th MarkPlus Conference 2021.

Di masa yang serba kacau ini, juga menjadi masa dimana kita harus menjaga harmony. Maksudnya dengan menyeimbangkan dan mengintegrasikan semua hal yang bersifat paradoks untuk mencapai hasil yang optimal. Namun kita pun tidak bisa hanya sekedar berupaya keras, tapi juga menuju arah yang jelas.

Keseimbangan itu seperti halnya prinsip Yin Yang. Ini adalah filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain. Istilah ini diperkenalkan pertama klai pada zaman Dinasti Han, dan kemudian diadposi pada Dinasti Song pada abad ke-11.

“Semua akan berubah. Dari divided menjadi balance, dari clash menjadi harmony,” kata Hermawan.

Dia mengambil contoh kisah Laksamana Cheng ho, seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok yang melakukan penjelajahan atau ekspedisi ke Nusantara antara tahun 1405 hingga 1433. Di sini, Cheng Ho bukan datang untuk berperang melainkan menjalin persahabatan dengan negara di Asia Tenggara.  

“Tahun 2045 saya umpamakan sebagai The True North yang menjadi tujuan yang hendak kita capai. Memang dalam perjalanannya tidak akan berjalan dengan mulus. Selalu ada tantangan dan rintangan yang harus dihadapi, namun selalu ada peluang dan momentum yang harus dioptimalkan,” kata Hermawan.

Karena itulah, pemasar membutuhkan compass yang tepat. Yaitu Compass of Business (5.0), Compass of Entrepreneurship (5.0), dan Compass of Strategic Marketing (5.0). “Hidup seperti kompas. Ketika kita menentukan tujuan secara benar, maka kami akan menuju ke arah yang tepat,” tutup Hermawan.

MARKETEERS X








To Top