Seperti Apa Tren Perilaku Konsumen Indonesia?

profile photo reporter Annisa Bella Syana.S.
AnnisaBella Syana.S.
02 November 2018
marketeers article
Copy-spaced image of lovely ladies doing on-line shopping at a cafe

Seberapa sering Anda mendengar Indonesia sebagai pasar yang potensial bagi para pebisnis? Mungkin pernyataan ini tak asing lagi di telinga Anda. Pasalnya, hampir pemain bisnis di setiap industri mengakui hal ini.

Memahami perilaku konsumen Indonesia menjadi penting, terlebih mengadopsi tren yang ada di tengah masyarakat. Menilik data MarkPlus Analysis perihal Customer Attitude/Lifestyle and Facilitating Technology Trends (2012-2020), berikut ini Marketeers merangkum sejumlah insight terkait tren konsumen Indonesia beberapa waktu terakhir. Seperti apa?

Multiple Aspiration & Poverty Lines

Kini, konsumen Indonesia memiliki aspirasi yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Konsumen kini bisa sekejap merasa seperti orang kaya namun dapat pula merasa menjadi miskin dalam seketika. Perasaan ini bisa dirasakan dengan begitu mudah dan cepat. “Misalnya, mereka bisa mengendarai Grab-Car atau Go-Car dan merasa seperti memiliki mobil dan supir pribadi, namun mereka bisa seketika merasa miskin untuk kondisi yang berbeda,” jelas Yosanova Savity, Principal at MarkPlus Inc., di Jakarta, Jumat (02/11/2018).

Pekerjaan rumah bagi para pebisnis adalah bagaimana mereka dapat mewadahi aspirasi masyarakat Indonesia ini. Semisal, pelaku startup teknologi. “Berpikirlah bagaimana aplikasi Anda bisa membuat orang yang merasa miskin sekita merasa kaya. Seperti dengan layanan yang dihadirkan Go-Car atau Grab-Car. Siapapun berkesempatan merasakan pengalaman tersebut,” ungkap Yosanova.

“F” Factor

Persoalan kedua adalah faktor “F” (Fans/Followers, Friends, and Family driving rateocracy). Jika dulu orang berpikir bahwa aset mereka adalah berapa banyak saluran beriklan yang bisa meraka jamah, kini aset tersebut berubah menjadi berapa banyak follower ataupun subscriber yang dimiliki, dan seberapa tinggi engagement mereka.

“Jadi, jika dibandingkan dulu dan sekarang, kompetisi saat ini kian fair karena yang konvensional belum tentu menang di digital. Kompetisi saat ini kian horizontal,” jelas Yosanova.

Spontaneous Discovery

“Sekitar 96% penduduk Indonesia terpengaruh dengan TVC, 52% di antaranya melakukan pencarian melalui mobile phone ketika menonton televisi,” papar Yosanova. Saat ini, konsumen dapat dengan mudah menemukan sesuatu. Mereka bisa melihat konten di televisi dan pada detik itu juga mencari apa yang mereka lihat di televisi melalui mobile phone.

Pelaku bisnis bisa merespons perilaku ini dengan memanfaatkan teknologi sensor, mulai dari yang basic seperti UPC Barcodes atau QR Codes hingga yang advanced seperti Location-Based Services, NFC, Digital Wallet, dan Augmented Reality.

High Demand for Customization

Semakin maju teknologi, maka keinginan konsumen pun kian beragam. Terlebih, konsumen muda di area urban. Mereka begitu ekspresif dan memiliki keinginan besar untuk stand out. Kuncinya terletak pada customer analytics.

“Para pelaku usaha harus mampu melakukan behavior tracking, misalnya melalui loyalty program, apps, ataupun  video cam and motion detector. Mereka juga harus mampu melakukan customer profiling and prediction. Setidaknya mereka harus memahami penggunaan Google Analytic dan Facebook Insights, jelas Yosanova.

‘Offline’ Experience Still Matters

Ketika dunia kian digital, konsumen pun kian merindukan peran offline. “Untuk itu, solusinya adalah human interface. Jangan remehkan saluran  apapun  karena begitu banyak opportunity bisa saja tidak kita lihat,” ungkap Yosanova.

Hal ini pun tak selalu membutuhkan modal yang besar. Yosanova mencontohkan, ketika ingin beriklan melalui media konvensional seperti Radio, Anda bisa memanfaatkan sistem barter. Anda bisa barter dengan radio tersebut untuk menjadi pengisi konten mengenai hal tertentu yang memiliki insight menarik bagi pendengar mereka.

“Analoginya, surround sound marketing. Buat aktivasi secara offline, pasang iklan atau konten di online sehingga audiens akhirnya terkepung dan akhirnya mencoba apa yang kita tawarkan. Harus konsisten, selalu ada. Kemudian Anda hanya perlu mencari media apa yang cocok untuk apa yang Anda tawarkan. Integrasikan online dan offline,” jelas Yosanova.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Related