Transportation & Logistic

Sepi Penerbangan, Bandara Kertajati Fokus Lengkapi Infrastruktur

PHOTO CREDIT: 123RF

International Air Transport Association (IATA) memprediksi trafik penumpang global (Revenue Passengger Kilometers/RPK) tidak akan kembali ke level sebelum COVID-19 hingga tahun 2024, setahun lebih lambat dari yang diproyeksikan sebelumnya.

“RPK global diperkirakan 32% hingga 41% di bawah tingkat yang diharapkan pada tahun 2021. Ini tentu menjadi ancaman sendiri bagi pengelola bandara,” kata Salahudin Rafi, Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) di acara Industry Roundtable: Actualizing The Post Normal Year 2021 & Beyond, Selasa (15/09/2020).

Salahudin menambahkan sepanjang April hingga Agustus 2020, Bandara Kertajati hanya mencatat satu kali penerbangan non-komersil akibat dampak pandemi. Namun demikian, pandemi tidak membuat pengembangan infrastruktur Bandara Kertajati terhenti.

“Pandemi membawa berkah untuk back to basic. Kami menyiapkan kalau jalan tol Cisamdawu tersambung Bandung dan Kertajati, kami juga siapkan hotel dan konektivitas kereta cepat yang akan masuk ke Bandara Kertajati,” jelas Salahudin.

Ia menambahkan, BIJB sedang berencana untuk mengerjakan fasilitas layanan kargo yang akan dimulai setelah Bandara Kertajati selesai. Rencana ini sebagai pendukung konektivitas logistik nasional jalur udara.

Selain itu, telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil untuk membuat kawasan Rebana yang menggabungkan Patimban, Cirebon, dan Kertajati melalui jalur darat dengan kereta logistik.

“Ini mungkin yang menjadi pertama dilakukan di Indonesia untuk mengkonektivitaskan antara pelabuhan, bandara, dan darat,” pungkas Salahudin.

Salahudin berharap, pada tahun 2022 atau 2023 dan ke depan, Kertajati dapat menjadi kawasan Aerocity dan pusat logistik, di mana di dalamnya juga akan terdapat Aerospace Park, Pusat Teknologi Kreatif, dan Pusat Bisnis.

“Kami terus bergerak untuk membangun Aerocity tersebut. Kami juga berencana membangun bengkel pesawat atau MRO (maintenance, repair, dan operation) dan cargo village untuk mendukung logistic hub,” kata Salahudin.

MARKETEERS X








To Top