Soal e-Ticketing KRL, Orang Indonesia Cepat Ngerti Dibanding Tiongkok

marketeers article

Konsep tiket menggunakan tiket secara tapping di wilayah Jabodetabek, tempel kartu secara digital, baru digunakan oleh KRL sekitar setahun. Namun, namanya penggunaan teknologi baru, semuanya membutuhkan adaptasi sehingga peran edukasi mutlak dilakukan oleh PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) kepada penumpang.

“Ketika kami memperkenalkan e-ticketing tersebut, banyak penumpang komplain. Yang kami lakukan adalah mengedukasi penumpang terkait berbagai kelebihan yang bisa didapat menggunakan e-ticketing serta bagaimana menggunakannya. Tentu perlu waktu, memindahkan kebiasaan pakai tiket manual ke digital,” ujar Manajer Komunikasi PT KCJ Eva Khairunnisa.

Banyak cerita di balik pemberlakukan e-ticketing pertama kalinya. Paling cukup menyita perhatian adalah antrean panjang di stasiun. Selain antre tiket, ternyata antrean terjadi juga di depan pintu otomatis, tempat di mana penumpang tapping kartu untuk masuk ke area stasiun kereta. Kenapa?

“Antrean depan loket tiket pada awalnya terjadi karena penumpang tidak terlalu mengerti bagaimana membeli tiket atau mengisi saldo kartu digital. Jadinya lama. Dan,orang-orang kita walau sudah membaca panduan, tidak afdol rasanya kalau tidak bertanya. Di depan pintu otomatis pun mereka bertanya lagi kepada petugas. Di situ, terjadi juga antrean. Ketika satu atau dua orang bertanya, terjadilah akumulasi sehingga antrean bertambah panjang,” jelas Eva.

Namun, terdapat hal positif dari penerapan teknologi itu di masyarakat. Menurut Eva, masyarakat kita lebih cepat menyerap teknologi seperti halnya konsep e-ticketing ini. Hanya perlu sekitar enam bulan bagi masyarakat Jabodetabek mengerti tentang penggunaaan kartu digital KRL. “Di Tiongkok saja, butuh waktu tiga tahun. Kenapa kita begitu cepat? Masyarakat Indonesia punya kecenderungan menyerap teknologi cukup cepat, seperti halnya adaptasi smartphone yang tinggi di negara ini,” sambung Eva.

Sekarang, selain merilis kartu dari pihak KCJ sendiri, empat bank besar diajak ikut terlibat untuk penggunaan e-ticketing ini. Ada BCA, Mandiri, BNI, dan BRI yang ikut memproduksi kartu digital untuk membeli tiket KRL. Selain itu, kartu-kartu dari bank itu sudah terintegrasi untuk berbagai pembayaran lain, seperti untuk tiket Transjakarta. “Saldo tinggal diisi sendiri, cukup dengan tap tanpa perlu antre di loket. Mudah, kan,” tutup Eva.

Related

award
SPSAwArDS