Soal Masa Depan Kerja, Mana yang Ideal: WFO, WFH, atau Hybrid?

profile photo reporter Sigit Kurniawan
SigitKurniawan
21 April 2022
marketeers article
Pandemi selama dua tahun telah mengubah banyak hal, termasuk sistem dan cara kerja perusahaan dan organisasi. Menjelang masa endemi, banyak perusahaan yang mulai menjalankan sistem kerja baru. Meski demikian, masih banyak dari mereka yang bingung saat memilih cara kerja yang ideal. Mereka masih mengira-ngira mana yang termasuk masa depan kerja pascapandemi. Saat ini, populer di dunia kerja istilah work from home (WFH) atau sebagian menyebutnya dengan work from anywhere (WFA), work from office (WFO), ataupun kombinasi keduanya alias hybrid.
Iwan Setiawan, CEO Marketeers, mengatakan tidak ada satu pakem ideal yang bisa diterapkan secara sama di semua perusahaan. Ada banyak faktor yang memengaruhi jenis sistem kerja yang akan diterapkan dan ini tergantung pada kondisi masing-masing perusahaan, industri, hingga tipe pekerjaan itu sendiri. Namun yang jelas, dunia kerja saat ini tidaklah sama dengan dunia kerja sebelum pandemi.
“Pembahasan tentang masa depan kerja ini saya bagi dalam tiga aspek yang berkaitan satu sama lain, yakni masa depan pekerjaan itu sendiri (the work), tempat kerja (the workplace), dan tenaga kerja (the workforce),” ujar Iwan dalam Marketeers iClub bertajuk The Future of Work yang digelar secara virtual, Rabu (20/04/2022).
The Work
Diskusi soal masa depan pekerjaan tentu tidak lepas dari tren automasi. Mengingat, pandemi telah mengakselerasi digitalisasi di mana manusia semakin mengandalkan proses-proses kerja yang terautomasi. “Ini tentu mengubah pola-pola kerja yang sudah ada dan membuat jenis pekerjaan tertentu harus beradaptasi,” ujar Iwan.
Tingkat automasi pekerjaan ini, sambung Iwan, terbagi menjadi empat kluster. Kluster pertama mencakup industri-industri yang menjadikan human experience sebagai produk. “Human experience di kluster ini menjadi produk inti yang ingin disampaikan sebagai value proposition. Interaksi antara penyedia jasa dan penerima jasa menjadi dominan. Automasi terbatas di proses administrasi saja. Contohnya, industri hospitality, healthcare, edukasi, atau jasa profesional,” katanya.
the future of work 01
the future of work 01
Klaster kedua, human experience yang memperkuat produk atau interaksi manusia yang menambah nilai bagi produk inti. Contohnya, di segmen enterprise B2B seperti jasa IT dan wealth management. “Demikian juga di layanan transportasi jarak jauh seperti pesawat di mana layanan awak kabin sangat menentukan. Beda dengan quick travel dan moda low cost carrier,” imbuh Iwan.
Klaster ketiga, human experience yang menjembatani gap kepercayaan. Di kluster ini, automasi akan lebih banyak perannya atau membawa disrupsi pada jenis-jenis pekerjaan di sektor ini, seperti asuransi, properti, maupun otomotif. “Sulit sekali membawa e-commerce atau membuat kanal online menjadi kanal dominan di sektor ini. Di asuransi, andalannya masih bancassurance maupun agen asuransi yang mengandalkan interaksi human-to human. Ini terjadi karena orang membutuhkan trust, maka dibutuhkan perantara dalam bentuk interaksi manusia,” katanya.
Kluster keempat, human experience memfasilitasi transaksi. Di sini, peluang automasi paling besar. Contohnya, perbankan, ritel, telekomunikasi, hingga internet service provider. Sektor layanan kuangan, menurut Iwan, menjadi pionir dalam automasi layanan transaksi. Misalnya, hadirnya ATM untuk menggantikan peran teller. Kemudian berkembang dengan internet banking, mobile banking, dan sebagainya. “Saya percaya, dengan semakin banyaknya automatisasi, pekerjaan akan semakin manusiawi. Karena banyak pekerjaan rutin yang kurang besar nilainya akan diambil alih oleh mesin. Ini memberi peluang besar bagi interaksi nyata antarpekerja dan waktu bagi mereka untuk lebih kreatif,” katanya.
The Workplace
Terkait tempat kerja, Iwan membaginya menjadi empat kategori. Ia mengutip konsep klasifikasi yang diperkenalkan oleh Francis Duffy pada tahun 1997, jauh sebelum pandemi dan sistem kerja online belum sepopuler sekarang. Konsep Duffy tergolong futuristik karena ia sudah mengklasifikasikan jenis-jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan kantor secara fisik atau pekerjaan yang harus dilakukan secara bersama orang lain di satu tempat yang sama. Ia sudah memprediksi masa depan kerja.
the future of work 02
the future of work 02
 
Kategori tempat kerja ini dibagi berdasarkan dua variabel, yakni increasing autonomy dan increasing interaction. Otonomi yang dimaksud adalah apakah orang-orang di tempat kerja memiliki kebebasan dalam menentukan keputusan sendiri. Interaksi mengacu pada kebutuhan untuk interaksi secara sosial atau pekerjaannya memang membutuhkan interaksi dengan tim kerja. Pekerjaan yang memiliki otonomi tinggi lebih berpeluang dikerjakan secara work from home atau work from anywhere.
Ia membagi empat kategori kerja, yakni Hive (individual processes) seperti call center, Cell (concentrated study) seperti pengacara, Den (group processes) seperti media penyiaran, dan Club (transactional knowledge) seperti agensi periklanan.
The Workforce
Sementara, terkait dengan tenaga kerja, Iwan menyampaikan tipe-tipe pekerja atau employee. Tipe-tipe ini mencuat karena dipengaruhi oleh pandemi dan munculnya dominasi Milenial dan Gen Z dalam dunia kerja.
 
the future of work 03
the future of work 03
Merujuk pada riset Bain & Company yang juga melibatkan responden dari Indonesia, Iwan membeberkan enam tipe pekerja Indonesia, terutama dikaitkan dengan motivasi mereka bekerja. Tipe pertama adalah Operator. Orang dengan tipe ini bekerja karena memang ingin bekerja dan mendapatkan uang dan bukan untuk aktualisasi diri. “Riset Bain menunjukkan Indonesia dominan pada tipe operator ini sebesar 23%,” katanya.
Tipe berikutnya adalah Giver (21%). Tipe ini lebih suka membawa sentuhan manusia di perusahaan. Mereka contohnya lebih peduli pada teman-teman sekerja. Lalu, tipe Artisan (16%) yang fokus pada pengembangan kecakapan. “Mereka fokus pada skill set yang akan mereka bangun. Mereka cenderung banyak belajar dengan mengikuti kursus namun hanya di ranah kecakapan mereka saja atau menjadi spesialis,” katanya.
Ada juga tipe Explorer (11%) yang suka mencari pengalaman baru dan orang-orang bertipe ini cenderung suka bila dirotasi. Sementara, tipe Striver (16%) mengacu pada orang-orang yang memiliki semangat memimpin, semangat menang, dan kompetitif. Tipe ini cocok ditempatkan di posisi pemimpin. Terakhir, tipe Pioneer (13%) yang mengacu pada pemimpin visioner dan mereka sering menjadi mesin perubahan di perusahaan atau organisasi.
“Umumnya di negara maju, tipe pioneer dan striver sangat banyak, sedangkan di negara berkembang tipe operator mendominasi. Sementara, jarang-jarang Milenial dan Gen Z yang bertipe operator ini karena keduanya cenderung mencari sesuatu di tempat kerja melampaui kerja itu sendiri,” kata Iwan.

Related