Strategi Michelin Menyambut Era Kendaraan Elektrifikasi

marketeers article
Sai Banu Ramani, President Director Michelin Indonesia. (FOTO: Marketeers/Eric)

Dalam pasar ban kendaraan, Michelin merupakan salah satu merek yang fokus di pasar premium. Di segmen itu, sejumlah merek kendaraan pun telah melakukan transisi menuju era kendaraan dengan teknologi elektrifikasi.

Sai Banu Ramani, President Director Michelin Indonesia mengatakan hal itu linear dengan komitmen Michelin yang akan selalu mendukung produk yang ramah lingkungan. Akan tetapi, merek Prancis itu memiliki strateginya sendiri dalam menyambut kendaraan electric vehicle (EV).

“Kami mendukung produk mobil listrik tapi kami tidak menghadirkan produk ban khusus EV. Karena, seluruh ban yang kami hadirkan merupakan produk yang EV-ready,” kata Sai Banu Ramani dalam kunjungan pabrik pemasok bahan baku Michelin di Cilegon, Banten, Kamis (30/11/2023).

BACA JUGA:  BFGoodrich Menyasar Pecinta Performa lewat Ban g-Force PHENOM T/A

Dengan strategi itu, maka seluruh produk yang disajikan merupakan produk dengan beragam keunggulan baik dari segi keamanan, kenyamanan hingga efisiensi. Seluruh keunggulan itu pun bisa dimanfaatkan, baik oleh mobil konvensional maupun mobil listrik.

Karenanya, saat ini telah terdapat sejumlah mobil listrik yang menggunakan ban Michelin sebagai ban original equipment manufacturer (OEM). Hal ini pun menjadi bukti bahwa produk yang dihadirkan telah sesuai dengan requirement mobil listrik.

Michelin

Ia meyakini dengan strategi yang berorientasi dalam menghadirkan produk yang high performance dan eco-friendly, perusahaan bisa terus melakukan penetrasi pasar secara optimal di tengah kompetisi ban yang cukup sengit.

BACA JUGA:  Bridgestone Perluas Opsi Produk Ecopia lewat Ecopia EP300 ENLITEN

“Secara umum, kami menghadapi kompetisi dalam industri ban dengan fokus untuk melakukan tiga hal. Hal itu adalah inovasi, penerapan teknologi terkini dan selalu menghadirkan produk yang sesuai dengan consumer need,” ujarnya.

Dari segi industri, Michelin sendiri memercayakan produksi bahan bakunya pada perusahaan di berbagai negara, salah satunya Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku karet sintetis, perusahaan pun mendirikan pabrik elastomer di Cilegon.

Michelin

Lewat kesepakatan joint venture antara PT Michelin Indonesia dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk, perusahaan membentuk entitas baru bernama PT Synthetic Rubber Indonesia (SRI). Pabrik seluas 25 hektare itu pun dipercaya untuk memproduksi karet sintetis yang kemudian diproses menjadi ban di pabrik Michelin di berbagai negara.

BACA JUGA: Review Pirelli Diablo Rosso Sport: Tawarkan Stabilitas di Kecepatan Tinggi

“PT SRI merupakan bagian penting bagi rantai pasok Michelin secara global, mengingat Michelin hanya memiliki tiga pabrik elastomer di dunia dan PT SRI adalah salah satunya,” ujar dia.

Michel Lefebvre, Direktur Utama PT Synthetic Rubber Indonesia mengatakan, sejak pertama kali beroperasi pada 2013, PT SRI merupakan pabrik Solution Styrene Butadiene Rubber (SSBR) pertama dan satu-satunya di Indonesia.

“SSBR merupakan bahan baku terbaik untuk memproduksi kompon tapak ban berperforma tinggi, khususnya untuk ban performa tinggi dengan hambatan gulir rendah atau low-rolling resistance. Kami menerapkan beragam teknologi mutakhir dalam memproduksi jenis karet sintetis tersebut,” kata Michel.

Pabrik ini sendiri merupakan fasilitas dengan volume produksi tahunan mencapai 120.000 ton. Sebanyak 90% dari produk PT SRI diserap oleh pasar ekspor ke lebih dari sepuluh negara. Menurut dia, Thailand dan China merupakan negara destinasi dengan volume ekspor terbesar sejalan dengan permintaan pasokan ban di wilayah tersebut.

Editor: Ranto Rajagukguk

Related

award
SPSAwArDS