Survei Dentsu: Hanya 34% Pemasar Sadar Isu Lingkungan

marketeers article
Ilustrasi bisnis berkelanjutan. Sumber gambar: 123rf.

Perusahaan layanan pemasaran, Dentsu mengeluarkan hasil riset terbarunya terkait dengan urgensi praktisi pemasaran untuk masa depan berkelanjutan. Riset ini berkolaborasi dengan Kantar, yang merupakan perusahaan data analitik pemasaran.

Dalam penelitian tersebut, didapati hanya satu dari tiga atau 34% tim pemasar dengan wawasan yang melaksanakan rencana keberlanjutan dan mengukur kemajuan mereka. Ini jauh lebih rendah dengan 46% dalam rantai pasokan (supply chain), dan 51% dalam strategi perusahaan.

Studi baru mengidentifikasi dua kesenjangan intensi-aksi yang signifikan, kesenjangan intensi-tindakan konsumen dan organisasi yang menjadi akar tantangan bagi praktisi pemasaran. Selain itu, berdasarkan studi oleh Kantar mengenai barometer isu global, isu iklim merupakan masalah utama.

Hal ini dibuktikan dengan 60% konsumen global mengatakan mereka mengalami kecemasan terhadap lingkungan yang mendorong inisiasi serta keinginan untuk bertindak. Adapun riset dilakukan di 12 wilayah Asia Pasifik meliputi Australia, Cina, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Selandia Baru, Singapura, Taiwan, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Laporan ini dilandasi oleh sejumlah metodologi yang mengambil sumber dari empat studi oleh Kantar dan Dentsu, 40 sumber data publik, serta lebih dari 100 jam statistik dan analisis budaya untuk pengamatan lebih lanjut. Selain itu, survei melibatkan lebih dari 71 praktisi pemasaran berpengalaman melalui 10 kali wawancara dengan pemimpin perusahaan pemasaran dan keberlanjutan. Termasuk, melibatkan lebih dari 30 analisis brand internal maupun eksternal.

BACA JUGA: The Future of Entrepreneurship

Dominic Powers, Chief Growth Officer (CGO) Dentsu Asia Pacific mengatakan, dari hasil tersebut ditemukan fakta bahwa Indonesia memiliki tiga masalah iklim utama yakni kemiskinan dan kelaparan, penggundulan hutan, dan polusi air.

Permasalahan ini menjadi tantangan penting dalam pelestarian lingkungan dan ekosistem, untuk mencapai kehidupan yang lebih berkelanjutan. Meskipun begitu, praktisi pemasaran saat ini gagal untuk menangkap peluang.

“Kemajuan yang bermakna dalam tujuan keberlanjutan membutuhkan upaya di mana bisnis, konsumen dan masyarakat sipil, pembuat kebijakan, regulator, dan penyedia modal bekerja secara harmonis. Pemasar tidak hanya dilandasi tujuan bisnis untuk mendorong inovasi yang dapat memicu perubahan besar, tetapi mereka juga harus mengubah seluruh filosofi di balik perancangan, yang didasarkan pada tingkat penjualan,” kata Dominic melalui keterangannya, Selasa (17/1/2023).

Menurutnya, perubahan sistem diperlukan untuk mencapai target keberlanjutan global dan memastikan masa depan bumi. Tidak diragukan lagi bahwa bisnis, brand, serta mitra agensi mereka memiliki  kebutuhan dan peluang.

Sebagai jembatan antara brand dan konsumen, praktisi pemasaran memiliki peluang unik. Sehingga harus bertanggung jawab untuk menjadi agen perubahan generasi yang memengaruhi perilaku konsumen, serta mendorong inovasi yang akan diinformasikan kepada pelanggan.

Untuk mencapai kemajuan yang mendalam dan menggerakkan keberlanjutan, studi ini menemukan bahwa fungsi pemasaran memerlukan perubahan filosofis, yaitu diberi mandat untuk mendorong inovasi di luar target penjualan jangka pendek. Tujuannya untuk menciptakan pertumbuhan yang baik bagi masyarakat dan bumi, serta bisnis. Transformasi keberlanjutan perusahaan dan konsumsi berkelanjutan perlu menjadi prinsip untuk mengorganisir fungsi pemasaran.

“Studi tersebut memperkirakan bahwa dengan membuat perubahan agresif ini, brand akan dapat mendorong perubahan perilaku dan gaya hidup untuk mencapai pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 40% hingga 70%,” ujarnya.

BACA JUGA: Mindful Leaders vs Quiet Quitters

Dominic menambahkan, untuk mewujudkan tujuan konsumsi berkelanjutan, praktisi pemasaran harus melakukan organisir yang baik agar memberikan dampak kepada masyarakat luas mengenai kehidupan berkelanjutan. Brand dan pemasar pun harus merangkai taktik termasuk mitra ekosistem yang menangani rantai aktivitas dan jejak karbon demi merealisasikan tujuan tersebut.

“Dengan memposisikan diri, mereka menjadi penggerak perubahan dengan ekosistem yang lebih besar, konsumen dan perusahaan, praktisi pemasaran dapat memberikan relevansi, suara dan perubahan inovasi kehidupan yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Trezelene Chan, Head, Sustainability Practice, Kantar Asia Pasifik menambahkan, dalam ekosistem ekonomi terjadi kesenjangan intensi-tindakan konsumen merupakan masalah bagi praktisi, dengan 56% hasil mengidentifikasinya sebagai tantangan utama. Hanya 17% konsumen Asia yang secara aktif mengubah perilaku mereka menjadi lebih berkelanjutan, meskipun 98% orang Asia mengatakan akan melakukannya.

“Namun, studi kami mengungkapkan bahwa kesenjangan intensi-tindakan organisasi merupakan tantangan yang sama pentingnya untuk ditangani. Meskipun 73% pemasar percaya bahwa keberlanjutan penting untuk kelangsungan bisnis dan pertumbuhan nilai, penelitian ini mengungkap hambatan taktis dan mendasar yang menghalangi pemasar untuk mengambil kepemimpinan berkelanjutan yang berarti,” kata Trezelene.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related