Tahun 2016, Ritel Bisa Tumbuh 12%?

marketeers article
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) mengatakan, pertumbuhan ritel tahun 2015 hanya menyentuh angka 8%-9%. Penurunan ini terjadi sejak Q1 2015 yang ditandai dengan melesetnya target pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 5,4% menjadi hanya 4,7%.
 
“Revisi pertumbuhan ekonomi itu membuat pertumbuhan ritel terkoreksi 12%-13%,” ungkap Ketua APRINDO Roy Mandey dalam sesi panel asosiasi di MarkPlus Conference 2016, Ballroom Ritz Carlton Jakarta, Kamis (10/12/2015).
 
Roy mengatakan, 54% dari total PDB Indonesia disumbang dari sektor konsumsi rumah tangga. Yang terjadi tahun ini adalah konsumsi masyarakat menurun, tentu saja berimbas pada pendapatan ritel. “Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi juga ikut turun karena sektor konsumsi menurun,” ujarnya.
 
Lantas bagaimana proyeksi APRINDO tahun 2016? Roy menilai, tanda-tanda perbaikan sudah terjadi sejak Q4 2015. Salah satunya paket-paket kebijakan pemerintah yang mulai menyentuh sektor ritel. “Saya harap tahun depan ritel tumbuh 12%,” ucap Roy optimistis.
 
Di sisi lain, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman mengatakan, kontribusi volume makanan dan minuman di Q3 2015 adalah 6,95%. Pada kuartal yang sama tahun lalu mencapai 9,5%. “Dulu pertumbuhan didorong karena volume (penjualan), sekarang karena (kenaikan) harga,” ungkap Adhi di tempat yang sama.
 
Tahun depan, dia menilai industri makanan dan minuman akan bagus seiring program pemenrintah berlaku efektif sejak januari 2016. “Penurunan listrik untuk industri serta pengeluaran pemerintah menjadi pendorong pertumbuhan makanan minuman,” pungkasnya.
 
Editor: Sigit Kurniawan 

Related

award
SPSAwArDS