Tahun 2024, Inflasi di Negara Berkembang Diprediksi Capai 6,2%

marketeers article
Ilustrasi kondisi hiperinflasi suatu negara. (Sumber: 123RF)

Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) memperkirakan inflasi di negara-negara emerging market atau negara berkembang bisa mencapai 6,2% pada tahun 2024. Hal tersebut disebabkan lantaran kondisi ketidakpastian global yang kian memburuk dan situasi memanasnya geopolitik dunia.

Heru Kristiyana, Direktur Utama LPPI menuturkan, secara umum inflasi di seluruh dunia rata-ratanya mencapai 4,6%. Sedangkan di negara yang tengah ekspansi inflasinya diperkirakan menyentuh 3%.

BACA JUGA: BPS Laporkan Inflasi Agustus 2023 Sebesar 3,27%

“Konflik geopolitik secara umum pasti akan berdampak pada oil supply disruption dan harganya akan naik dalam periode yang panjang,” kata Heru dalam acara Indonesia Financial Sector Outlook 2024 secara daring, Jumat (24/11/2023).

Menurutnya, inflasi sebesar itu dapat berdampak dan memengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Bahkan, dana moneter internasional atau IMF memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dunia hanya 2,9%.\

Sementara itu, kondisi yang lebih baik terjadi di negara-negara berkembang dengan pertumbuhan PDB mencapai 6,8%. Namun, di negara ekspansif tumbuh 1,4%.

BACA JUGA: BPS Laporkan Laju Inflasi Juli 2023 Sebesar 3,08%

“Kalau di Indonesia pasti terjadi pelambatan ekspor dan tentunya surplus neraca perdagangan akan melemah dengan pelemahan PDB. Ini yang perlu diantisipasi supaya bisnis tidak terganggu,” ujarnya.

Di sisi lain, Heru menyebut, kemarau panjang dan Elnino turut berkontribusi terhadap menurunnya PDB serta pertumbuhan ekonomi. Gagal panen yang terjadi lantaran minimnya curah hujan membuat harga pangan melambung tinggi.

Bahkan, negara-negara eksportir beras, seperti India dan Vietnam sekarang sudah menghentikan ekspor berasnya. Jika kondisi terus memburuk, dua komoditas utama yang akan mengalami inflasi tertinggu yakni energi dan pangan.

“Mudah-mudahan kita bisa mengatasi dua masalah ini dan tidak membuat inflasi yang jauh lebih tinggi lagi tahun depan,” pungkasnya.

Editor: Muhammad Perkasa Al Hafiz

Related

award
SPSAwArDS