Tak Sanggup Beli Properti, Nasib Orang Jakarta Seperti Hong Kong?

marketeers article

Rumah123.com, portal pencarian rumah dan properti, memaparkan laporan terkait sentimen masyarakat Indonesia terhadap industri properti pada semester satu 2016. Salah satu temuan itu menyebut bahwa properti adalah salah satu konsentrasi pengeluaran terbesar masyarakat Indonesia, selain pendidikan.

Survei ini dilakukan kepada 3.436 responden dengan komposisi 51% laki-laki dan 49% perempuan. Adapun rentan usia responden antara 22-45 tahun, dimana usia 22-28 tahun menjadi responden terbesar dengan komposisi 20% laki-laki, 26% perempuan.

“Dari survei kami, 54% adalah mereka yang memiliki penghasilan bulanan Rp 5 jutaan. Dan 26% berpenghasilan Rp 5 juta-Rp 10 juta. Nah, kalangan-kalangan ini yang kami asumsikan memiliki keinginan kuat untuk membeli properti,” ujar Ignatius Untung, Country Manager Rumah123.com saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Untung melanjutkan, semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin tinggi keinginannya untuk membeli properti. Sebaliknya, semakin rendah penghasilan, properti bukan prioritas pengeluaran.

Dari total responden itu, 40% merupakan pembeli rumah pertama, dan 14% adalah kalangan upgrader alias mereka yang sudah memiliki properti, namun ingin membeli yang lebih baik.

“Ada 33,6% responden berkeinginan membeli rumah dalam enam bulan ke depan. Hipotesa awal kami adalah kendaraan yang paling ingin dibeli orang. Ternyata, survei kami bilang kendaraan hanya 12,8% responden,” ujar Untung.

Meski keinginan orang Indonesia tinggi untuk membeli properti, akan tetapi 41% mengaku tidak memiliki tabungan yang cukup untuk membeli properti.

“Bahkan, 46% orang  Indonesia belum memiliki rumah. Dan semakin kecil pendapatan, mereka hanya memiliki rumah warisan orang tua,” kata Untung menjelaskan. Ia melanjutkan hanya 2% orang Indonesia yang memiliki lima unit properti.

Di sisi lain, 22,83% orang mengaku mampu membeli properti dalam waktu dekat. Untung beranggapan, dari 260 juta penduduk Indonesia, ada sekira 56 juta orang yang memiliki kemampuan untuk membeli properti saat ini.

Kendati demikian, pengembang dan agen properti lebih senang mengincar investor sebagai target pembeli. Ini dimaklumi karena investor mampu membeli properti dalam jumlah unit yang besar.

Padahal, kata Untung, ada 54% orang yang bukan investor, namun ingin membeli properti. Sedangkan, berdasarkan surveinya, jumlah investor hanya menguasai 12%. “Walau kecil, namun uang yang beredar di kalangan investor berlipat-lipat jauh lebih besar,” tutur Untung.

Sama Seperti Hong Kong

Untung menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa seseorang menunda pembelian properti. Pertama, 30% bilang mereka sulit melakukan pembayaran di muka atau down payment.

Kendati Bank Indonesia sudah memberikan stimulus dengan menerbitkan relaksasi Loan to Value (LTV) sebesar 5% yang membuat uang muka menciut menjadi 15%, tetap saja, kata Untung, orang Indonesia sulit untuk membeli properti. Terlebih lagi, beberapa pengembang telah memberikan cicilan DP hingga tiga tahun.

Ini mengacu pada alasan kedua yang menurut Untung tidak realistis. Orang Indonesia, menurutnya, cukup muluk dalam membeli properti. Lokasi yang tidak sesuai keinginan menjadi kendala utama seseorang menunda membeli properti. Kalangan ini mewakili 20% dari total responden Rumah123.

“Mereka ingin membeli di lokasi tengah kota dan dekat kantor, namun uang mereka tidak cukup untuk membeli properti di sana. Sedangkan apabila ada lokasi yang sesuai bujet, mereka menolak karena alasan jauh,” pungkas Untung.

Jika calon pembeli properti memiliki mental seperti ini, sambung Untung, sulit baginya untuk memiliki rumah. Sebab, harga properti terus meningkat setiap tahun melebihi kenaikan gaji.

“Persepsi mereka yang penghasilannya Rp 5 juta berpikir butuh waktu 10 tahun untuk mencapai DP. Padahal semakin ditunda, harga properti naik. DP pun juga naik,” tegas Untung.

Dia menambahkan, bisa-bisa Jakarta akan seperti Hong Kong dimana warganya sudah tidak membeli properti karena harganya sudah selangit. Pasalnya, 57% orang Hong Kong tidak memiliki rumah. Bahkan, ada apartemen di Hong Kong seluas 2×4 meter.

“Harga properti di sana sudah sulit dicapai. Sehingga, generasi mereka menjadi kontraktor, alias tukang ngontrak. Tentunya, kita tak mau hal itu terjadi di Indonesia, bukan?”.

Gejala Jakarta seperti Hong Kong sudah mulai terlihat. Dalam beberapa tahun studi sentimen properti dilakukan, telah terjadi perubahan indikator properti. Misalnya, rumah sederhana yang dulu didefinisikan berdasarkan ukuran dan material, kini sudah bergeser.

“Luas sudah tidak jadi patokan rumah disebut rumah sederhana atau rumah sangat sederhana. Bahkan, di berbagai kawasan di Jabodetabek, rumah 32 m2 saja disebut rumah mewah,” imbuh Untung.

Karenanya, perlu edukasi dari pengembang, agen proeprti, maupun pemerintah agar warganya melek properti, khususnya mereka yang berpenghasilan Rp 5 juta. Edukasi tersebut dapat berupa kampanye massal untuk mengajak orang memahami alasan membeli properti sedini mungkin.

“Jangan berpikir gaji Rp 5 juta, tidak bisa beli properti. Kalau mindset-nya seperti itu terus, kita tidak akan bisa beli properti,” tutur Untung.

Kalau kampanye itu berhasil dilakukan, hal itu dapat menggairahkan pasar properti untuk kelas menengah bawah. “Pengembang pun jadi tidak ragu untuk mengembangkan properti kelas tersebut,” tuturnya.

Untuk kalangan berpenghasilan Rp 5 jutaan, Untung bilang, sudah ada apartemen yang cicilan DP-nya sekitar Rp 800.000 per bulan dengan harga properti berkisar Rp 200 jutaan.  Saat ini, pasar terbesar apartemen masih berada di rentan cicilan Rp 7 juta-Rp 15 juta per bulan.

Editor: Sigit Kurniawan

Related

award
SPSAwArDS