Tiga Tren Baru Masyarakat Digital Indonesia Versi LINE

profile photo reporter Marketeers Editor
MarketeersEditor
12 Maret 2015
marketeers article
LINE Indonesia baru saja merilis film pendek Nic and Mar yang rencananya akan tayang di akun LINE Story bagi para pengguna LINE. Karya film digital ini merupakan kelanjutan kampanye sukses LINE Indonesia tahun lalu lewat reuni Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) yang booming secara viral.
Lalu, apa sebetulnya yang mendasari dirilis lagi kampanye berformat video pendek tersebut? “Kami menangkap beberapa tren yang ada di masyarakat digital Indonesia saat ini. Pertama adalah tren travelling. Sekarang, masyarakat kita sedang gencar melakukan travelling. Efeknya adalah tumbuhnya bisnis lain akibat booming-nya travelling ini,” ujar Team Leader Marketing LINE Indonesia Galuh Chandrakirana.
Dengan latar travelling ini juga, karakter Nic yang diperankan oleh aktor Nicholas Saputra digambarkan memang sedang dalam urusan jalan-jalan, sehingga diharapkan mewakili tren orang Indonesia saat ini. Kedua, tren social TV. Menurut Galuh, menonton program televisi tidak lagi di televisi boks seperti biasanya. Pada dasarnya, kini banyak orang menonton televisi secara streaming, baik jaringan televisi biasa maupun di kanal-kanal digital seperti YouTube. Tidak dipungkiri juga dengan hadirnya banyak kanal itu, masyarakat bisa punya kanal televisi sendiri layaknya media sosial.
Ketiga adalah konten marketing. Nah, dengan Nic and Mar itu, LINE Indonesia mencoba menggabungkan ketiga tren tersebut lewat film pendek berdurasi hanya enam sampai tujuh menit tiap episodenya. Tentu saja sebagai bagian dari konten marketing, tiap episode Nic and Mar diharapkan dapat meningkatkan  experience pengguna LINE, selain tentu saja kian memperkuat merek.
Dengan total tujuh episode tersebut, mengapa LINE tidak menggabungkan saja langsung semuanya dalam satu episode? “Video digital ini kan buffering. Kalau kami langsung paketkan dalam satu episode katakanlah 30 menit, buffering-nya akan sangat lama. Mengingat pula kecepatan Internet di Indonesia belum mumpuni untuk buffering video selama itu. Kalau kami paksakan, penonton kami bisa stres,” ujar Galuh.

Related